Page 121 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 121

BURUH MENOLAK UMP 2022, PENGUSAHA ANGGAP ADIL

              JawaPos.com – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak formulasi kenaikan upah
              minimum (UM) yang dibuat pemerintah. Buruh/pekerja bahkan mengancam mogok massal bila
              ketentuan tersebut tetap dilaksanakan.

              Ada  sejumlah  alasan  yang  mendasari  penolakan  tersebut.  Ketua  KSPI  Said  Iqbal
              mengungkapkan,  penggunaan  PP  36/2021  dalam  penghitungan  UM  merupakan  tindakan
              inkonstitusional. Sebab, dalam UU Cipta Kerja klaster ketenagakerjaan, tak disebutkan bahwa
              penghitungan kenaikan UM akan dijabarkan dalam peraturan pemerintah (PP).

              ”Formula kenaikan upah minimum dengan istilah batas atas (BA) dan batas bawah (BB) tidak
              dikenal dalam UU Ciptaker,” ujarnya dalam temu media kemarin (16/11).

              Menurut Said, penggunaan UU Ciptaker dan PP 36/2021 itu mencederai hukum. Sebab, saat ini
              UU Ciptaker sedang menjalani judicial review. Dengan demikian, karena belum berketetapan
              hukum, seharusnya peraturan masih menggunakan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan
              PP 78/2015.

              Dia menerangkan, buruh sejatinya sudah melakukan survei standar kebutuhan hidup layak (KHL)
              yang selama ini menjadi penentu kenaikan UM berdasar UU 133/2003. Dari hasil survei di 10
              provinsi, diperoleh rata-rata total KHL 7–10 persen.

              Lalu,  bila  menggunakan  PP  78/2015 yang  mengacu  pada  inflasi  dan  pertumbuhan  ekonomi,
              kenaikan UM minimal 4 persen. ”Dengan demikian, keduanya klop. Kenaikan upah minimum 5–
              7 persen. Itu dasarnya,” tuturnya.

              Sementara itu, respons sebaliknya ditunjukkan kalangan pengusaha. Mereka menilai formulasi
              UMP yang tertuang dalam PP 36/2021 sudah sesuai dengan kemampuan perusahaan. Peraturan
              menyatakan bahwa rata-rata penyesuaian UMP di seluruh provinsi sebesar 1,09 persen.

              ”Angka tersebut adil dengan parameter yang merefleksikan kondisi riil seperti rata-rata konsumsi
              dan tingkat pengangguran,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi
              Sukamdani.

              Menurut  Hariyadi,  kenaikan  UMP  yang  terlalu  tinggi  bisa  memicu  keterbatasan  penyerapan
              tenaga kerja. Selain itu, formulasi UMP kali ini hadir untuk mengurangi disparitas antarwilayah
              yang  terlalu  tinggi.  ”Dengan  demikian,  laju  pertumbuhan  upah  minimum  di  wilayah-wilayah
              dengan  upah  relatif  rendah  dibandingkan  dengan  rata-rata  konsumsi  wilayah  tersebut  bisa
              meningkat,” katanya.

              Wakil Ketua  Umum  Bidang  Ketenagakerjaan  Kadin  Adi  Mahfudz  menambahkan,  penyesuaian
              UMP  pada  2022  merupakan  hasil  kesepakatan  bersama  antara  pemerintah,  pengusaha,  dan
              pekerja.  ”Pengusaha,  terutama  yang  tidak  terdampak  Covid-19,  diharapkan  bisa  mengikuti
              regulasi yang ada dalam penyesuaian upah tahun depan,” tegasnya.















                                                           120
   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126