Page 279 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 279

Ringkasan

              Keputusan  pemerintah  yang  menyebutkan  rata-rata  kenaikan  upah  minimum  tahun  depan
              sebesar 1,09 persen menjadi berita buruk bagi kalangan pekerja. Selain karena kenaikan upah
              tersebut di bawah inflasi, para pekerja juga harus menghadapi rencana perpajakan yang tidak
              mengakomodasi kepentingan buruh.



              UPAH MINIMUM RATA-RATA NAIK 1,09 PERSEN TAHUN DEPAN, PEKERJA TERJEPIT

              JAKARTA - Keputusan pemerintah yang menyebutkan rata-rata kenaikan upah minimum tahun
              depan sebesar 1,09 persen menjadi berita buruk bagi kalangan pekerja. Selain karena kenaikan
              upah tersebut di bawah inflasi, para pekerja juga harus menghadapi rencana perpajakan yang
              tidak mengakomodasi kepentingan buruh.

              "Kalau  kenaikan  upah  minimum  hanya  1,09  persen,  konsumsi  masyarakat  pasti  akan
              terpengaruh karena tahun depan ada penyesuaian PPN, naik dari 10 persen menjadi 11 persen,"
              kata  Direktur  Center  of  Economic  and  Law  Studies  (CELIOS)  Bhima  Yudhistira,  dikutip  dari
              tempo.co, Rabu (17/11/2021).
              Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan pemerintah resmi menaikkan
              pajak pertambahan nilai (PPN) pada 1 April 2022 dari 10 persen menjadi 11 persen. Ketentuan
              itu diatur dalam Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) yang baru saja
              disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
              Dua kebijakan pemerintah itu berisiko menghambat daya beli masyarakat yang saat ini masih
              dalam pemulihan. Akibatnya, sektor ritel juga akan terkena dampaknya.

              "Kalau kenaikan upah cuma 1 persen, sementara proyeksi terjadi inflasi di atas 3-4 persen di
              2022 ini efeknya berarti daya beli kelas menengah dan pekerja rentan bisa tergerus inflasi. Jadi
              ini menyebabkan pemulihan daya beli dan konsumsi rumah tangga terhambat," kata Bhima.

              Di sisi lain, Bhima melihat tak ada jaminan bahwa penetapan kenaikan upah minimum yang
              minim itu akan disertai pembukaan lapangan pekerjaan yang dapat mengurangi pengangguran.
              Padahal, upah minimum seharusnya dapat menjadi jaring pengaman sosial bagi pekerja.


              "Kalau  upah  minimum  kecil  bisa  pekerja  melakukan  tekanan  terus  menerus  dan  membuka
              adanya  ketimpangan  keberpihakan  kepada  pengusaha.  Pengusaha  dapat  revisi  UU  Minerba,
              dapat UU Cipta Kerja, sementara pekerja hanya dapat kenaikan upah minimum di bawah inflasi,
              itu sangat menyakitkan," ujar Bhima.

              Sebelumnya,  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  mengatakan  rata-rata  kenaikan  upah
              minimum  provinsi  sebesar  1,09  persen.  Hal  itu  berdasarkan  simulasi  dari  data  Badan  Pusat
              Statistik. "Ini rata-rata nasional. Tentu sekali lagi kita tunggu para gubernur. Data BPS sudah
              kami sampaikan ke para gubernur. Nanti pada saatnya gubernur akan menetapkan. Tapi simulasi
              secara nasional itu kenaikannya 1,09 persen," kata Ida dalam konferensi pers virtual Selasa,
              (16/11/ 2021).
              Proyeksi upah layak itu didasari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan
              aturan  turunannya  yaitu  PP  Nomor  36  Tahun  2021  tentang  Pengupahan.  Ida  memastikan
              gubernur harus menetapkan Upah Minimum Provinsi paling lambat 20 November 2021.

              "Karena 21 November merupakan hari libur nasional maka penetapannya harus dilakukan paling
              lambat satu hari sebelumnya, yaitu tgl 20 November 2021," kata Ida.


                                                           278
   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283   284