Page 494 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 494

Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia menolak keputusan Kementerian Ketenagakerjaan
              (Kemnaker) yang menaikkan rata-rata Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022 sebesar 1,09
              persen.

              Presiden Aspek Indonesia, Mirah Sumirat mengatakan kebijakan pemerintah soal UMP tak sesuai
              dengan regulasi yang berlaku.

              "Pemerintah sedang mempermalukan dirinya sendiri, karena terbukti membuat aturan turunan
              berupa  PP  (Peraturan  Pemerintah)  Nomor  36  Tahun  2021  tentang  Pengupahan,  yang  justru
              bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja," kata Mirah
              dalam keterangan tertulis, Rabu (17/11/2021).

              Mirah  menjelaskan  dalam  UU  Cipta  Kerja  kenaikan  upah  minimum  dihitung  hanya  berdasar
              variabel pertumbuhan ekonomi atau inflasi dan bukan akumulasi. Namun dalam PP 36/2021, ada
              tambahan formula baru yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah--yang tidak diatur dalam UU
              Cipta Kerja-- yaitu penyesuaian nilai upah minimum ditetapkan dalam rentang nilai batas atas
              dan batas bawah.

              Nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per kapita, rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja
              pada  setiap  rumah  tangga.  Nilai  batas  bawah  upah  minimum  dihitung  dari  batas  atas  upah
              minimum dikalikan 50 persen.

              Menurut Mirah, formula baru rentang nilai batas atas dan batas bawah dalam PP 36/2021 ini
              membuat kenaikan upah minimum 2022 hasilnya justru di bawah inflasi atau pun pertumbuhan
              ekonomi.

              Padahal,  lanjut  dia,  berdasarkan  data  Badan  Pusat  Statistik  (BPS),  pertumbuhan  ekonomi
              tertinggi didapat oleh Maluku Utara dengan kenaikan 12,76 persen dan inflasi tertinggi Bangka
              Belitung 3,29 persen.
              Mirah mengungkapkan, berdasarkan PP 36/2021, kenaikan UMP 2022 tertinggi adalah di DKI
              Jakarta sebesar Rp4.453.724 dari sebelumnya pada 2021 sebesar Rp4.416.186,548.

              Artinya UMP DKI hanya naik sebesar Rp37.538. Sedangkan kenaikan terendah UMP 2022 adalah
              di  Jawa Tengah  yakni  Rp1.813.011  atau  hanya naik  sebesar  Rp14.032 dibanding  UMP  2021
              senilai Rp1.798.979,00.

              "Artinya dengan kenaikan UMP tahun 2022 tertinggi hanya sebesar Rp 37.538 dan kenaikan
              terendah adalah hanya naik Rp 14.032, ini sangat memalukan di tengah kondisi rakyat yang
              semakin  sulit  dan  daya  beli  masyarakat  yang  semakin  rendah.  Rakyat  dipaksa  untuk  terus
              miskin," jelas dia.

              Hal itu diperburuk saat 2020, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah memutuskan untuk tidak
              menaikkan upah minimum tahun 2021. Keputusan tersebut berdasarkan Surat Edaran Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada
              Masa Pandemi COVID-19.

              Mirah  menili  UU  Cipta  Kerja  dan  PP  36/2021  tentang  pengupahan  semakin  membuktikan
              Pemerintahan Joko Widodo berpihak kepada pengusaha.

              "Kami serikat pekerja afiliasi KSPI, mendukung penuh rencana KSPI yang akan melakukan Mogok
              Nasional secara konstitusional untuk menolak penetapan UMP 2022 yang tidak manusiawi dan
              ini semakin membuktikan bahwa Pemerintah tidak mampu memberikan kehidupan yang layak
              kepada rakyat nya," tandas dia.

                                                           493
   489   490   491   492   493   494   495   496   497   498   499