Page 12 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 12

Di sisi lain, para pengusaha tetap meminta penetapan UMK 2022 mengikuti aturan yang ada,
              yakni  Undang-undang  (UU)  Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  dan  turunannya  di
              Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.



              BURUH MINTA UPAH NAIK, BAKAL ADA PHK?

              Jelang pengumuman besaran upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2022 yang dilakukan paling
              lambat 30 November 2021, polemik langganan muncul. Para buruh meminta ada kenaikan upah
              minimum tahun depan sekitar 7-10%.

              Di sisi lain, para pengusaha tetap meminta penetapan UMK 2022 mengikuti aturan yang ada,
              yakni  Undang-undang  (UU)  Nomor  11  Tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja  dan  turunannya  di
              Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan.
              Ketua  Bidang  Organisasi,  Keanggotaan,  dan  Pemberdayaan  Daerah  Asosiasi  Pengusaha
              Indonesia (Apindo), Adi Mahfudz menilai permintaan para kaum pekerja itu tidak realistis. Apa
              lagi dunia usaha hampir seluruhnya mengalami dampak negatif dari pandemi COVID-19.

              "Adapun realistis atau tidak, tentu saja tidak. Karena mengingat kita dalam kondisi pandemi
              COVID-19. Tentu dari sisi beberapa sektor usaha kita banyak yang terdampak," ucapnya dalam
              konferensi pers, Selasa (2/11/2021).

              Menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pengupahan Nasional (Depenas)
              RI itu, butuh waktu 2-3 tahun bagi pengusaha untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum
              pandemi. Pengusaha juga tengah berupaya untuk menjaga agar tidak ada PHK yang menambah
              jumlah pengangguran.

              "Di sisi lain kita juga mempertahankan pengangguran, saya kira juga banyak yang masih cari
              kerja. Itu penting menurut saya," tegasnya.

              Walaupun tidak secara tegas menjelaskan adanya PHK jika upah minimum naik, Ketua Umum
              Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani meyakini polemik pengupahan ini
              mempengaruhi investasi di Indonesia.

              Sebab ada pergeseran dari jenis realisasi investasi. Dari tadinya Indonesia lebih banyak investasi
              padat karya yang menyerap banyak lapangan pekerjaan menjadi hanya pada modal.

              "Dapat kami sampaikan, kalau kita melihat tahun-tahun sebelumnya di 2010 pada saat investasi
              PMA dan PMDN itu adalah kira-kira Rp 203-204 triliun, rasio per Rp 1 triliun bisa menyerap 5.014
              tenaga kerja. Di 2019 pada saat kita mencapai sekitar Rp 806 triliun, penyerapannya tinggal
              1.220 kurang lebih," terangnya.

              "Apa artinya, ya ini data loh ya, saya nggak ngarang, artinya yang masuk lebih banyak padat
              modal. Padat karyanya hilang, itu yang sudah terjadi. Jadi memang ada korelasi bahwa UMP-
              nya  naik  maka  padat  karya  yang  harusnya  jadi  bantalan  penyerapan  tenaga  kerja  malah
              menyusut, yang masih bertahan adalah yang padat modal," tambahnya.

              Hariyadi menambahkan, pihaknya sejak 2004 atau satu tahun setelah UU Nomor 13 tahun 2003
              tentang  Ketenagakerjaan  disahkan  sudah  sering  mengajukan  formula  penghitungan  upah
              minimum.  Sebab  menurutnya  aturan  itu keluar dia  yakin  akan  berpengaruh  kepada  realisasi
              investasi.

              "Kami melihat bahwa aturan mengenai masalah pengupahan di UU 13 itu pasti akan membuat
              penyusutan di penyerapan tenaga kerja," tuturnya.

                                                           11
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17