Page 156 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 156

merupakan domain pemerintah untuk menetapkan. Peningkatan UMP sampai 10% tentu tidak
              realistis dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini.


              UMP 2022 NAIK 10%, PENGUSAHA ANGGAP PERMINTAAN BURUH TAK REALISTIS?

              Ilustrasi Upah Buruh (Liputan6) Jakarta, law-justice.co - Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP)
              2022  sebesar  7%-10%  masih  menjadi  ganjalan  bagi  kalangan  pengusaha,  pasalnya  banyak
              pengusaha yang masih terdampak pandemi Covid-19.
              Wakil  Ketua  Dewan  Pengupahan  Nasional  (Dapenas  RI)  Adi  Mahfudz,  menjelaskan  UMP
              merupakan domain pemerintah untuk menetapkan. Peningkatan UMP sampai 10% tentu tidak
              realistis dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini.

              Dari sisi pelaku usaha di beberapa sektor masih terdampak pandemi, dan menurut dia untuk
              stabil butuh 2-3 tahunan itu tidak mudah.

              "Upah  minimum  dikatakan  minimum,  seyogyanya  tidak  serta  merta  harus  naik  atau  turun
              namanya saja penetapan jadi ditetapkan. Standard-nya upah minimum biar tidak ada gejolak
              tantangan perekonomian di Indonesia," kata Adi dalam konferensi pers, Selasa (2/11/2021).

              Adi  mengatakan  penetapan  upah  minimum  itu  harusnya  menyasar  pada  buruh  lajang  dan
              dengan pengalaman 0 - 1 tahun. Namun yang sering jadi perbincangan tiap tahun adalah bagi
              kalangan buruh yang memiliki pengalaman di atas 1 tahun bahkan 10 - 20 tahun.

              Namun median upah di Indonesia sudah tinggi bahkan melebihi negara maju. Medium upah
              adalah jenjang rata-rata upah minimum yang biasanya di antara 0-2%.

              "Negara maju itu di bawah 0,6%, kami Indonesia di Filipina di atas 1%. Ini seyogyanya disparitas
              kita antar wilayah sudah terlalu tinggi. Makanya kurang begitu selaras tujuan UU Cipta Kerja
              yaitu mendatangkan investasi," jelasnya.
              Apindo  juga  sudah  melakukan  survei  pada  4  pasar  di  DKI  Jakarta.  Dari  hasil  survei  itu
              menghasilkan rata-rata standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) itu berada pada angka Rp 3,6
              juta, di bawah penetapan UMP DKI Jakarta saat ini sekitar Rp 4,4 juta. Uji petik yang dilakukan
              pada Pasar Senen, Pasar Cipinang, Pasar Koja, dan Pasar Sukapura. "KHL di pasar Senen itu Rp
              3.654.386, sedangkan di Sukapura dari 64 item KHL itu Rp 3.593.746, pasar Koja Rp 3.729995,
              Cipinang Rp 3.632.550, jika keempat pasar di DKI itu rata-rata kebutuhan hanya Rp 3,6 an. Itu
              jelas artinya jenjang kenaikan tahun berjalan itu 21%, itu terlalu tinggi," katanya.

              Sehingga kenaikan 7%-10% sangat tidak mungkin. Selain itu untuk perhitungan UMP kali ini
              berdasarkan pertumbuhan ekonomi atau inflasi masing-masing provinsi.

              "Kita tidak bisa berasumsi karena harus berdasarkan inflasi daerah masing-masing. kita tunggu
              penetapan itu dari BPS. Komponen pertumbuhan ekonomi juga masih menunggu PDRB masing-
              masing regional," katanya.

              Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani, mempertanyakan dasar besaran kenaikan UMP sampai 10%
              itu mengacu pada peraturan mana. Data yang digunakan menjadi argumen juga berdasarkan
              survey yang dilakukan secara sepihak oleh serikat pekerja.
              "UMP ini dari serikat pekerja mereka punya survey sendiri dan klaim sendiri itu dasar mereka,
              padahal seharusnya yang menjadi acuan sekarang itu PP 36/2021 tentang pengupahan," jelas
              Hariyadi dalam konferensi pers, Selasa (2/10/2021).


                                                           155
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161