Page 131 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JANUARI 2020
P. 131
Iqbal menilai hal ini akan semakin menyengsarakan bagi pekerja yang sakit, menjalankan
ibadah sesuai kewajiban agamanya, atau cuti melahirkan. Dimana upahnya tidak lagi dibayar
karena pada saat itu dianggap tidak bekerja.
Namun demikian, menurutnya, hal ini hanya akal-akalan. Sebab dalam praktik, akan sangat
mudah bagi pengusaha untuk menurunkan jam kerja, sehingga pekerja tidak lagi bekerja 40
jam.
2. Menghilangkan pesangon
Iqbal menyebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pernah
menggunakan istilah baru dalam omnibus law, yakni tunjangan PHK yang besarnya
mencapai 6 bulan upah.
Terkait hal ini, Iqbal mengatakan, dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 masalah pesangon
sudah diatur bagi buruh yang terkena PHK.
Besarnya pesangon adalah maksimal 9 bulan, dan bisa dikalikan 2 untuk jenis PHK tertentu,
sehingga bisa mendapatkan 18 bulan upah.
Selain itu, mendapatkan penghargaan masa kerja maksimal 10 bulan upah, dan penggantian
hak minimal 15 persen dari toal pesangon atau penghargaan masa kerja.
"Dengan kata lain, pesangon yang sudah diatur dengan baik di dalam UU 13/2003 justru
akan dihilangkan dan digantikan dengan istilah baru, tunjangan PHK yang hanya 6 bulan
upah. Padahal sebelumnya, buruh berhak mendapatkan hingga 38 bulan upah lebih," ujarnya.
3. Fleksibilitas pasar kerja atau penggunaan outsourcing dan buruh kontrak diperluas
Dalam omnibus law, dikenalkan istilah fleksibilitas pasar kerja. Iqbal menilai, istilah ini
dapat diartikan tidak adanya kepastian kerja dan pengangkatan karyawan tetap (PKWTT).
"Jika di UU 13/2003 outsourcing hanya dibatasi pada 5 jenis pekerjaan, nampaknya ke depan
semua jenis pekerjaan bisa di-outsoursing-kan. Jika ini terjadi, masa depan buruh tidak jelas.
Sudahlah hubungan kerjanya fleksibel yang artinya sangat mudah di PHK, tidak ada lagi
upah minimum, dan pesangon dihapuskan," sebut Iqbal.
4. Lapangan pekerjaan yang tersedia berpotensi diisi Tenaga Kerja Asing (TKA) Unskill
Terkait TKA, dalam UU 13/2003, penggunaan TKA harus memenuhi beberapa persyaratan.
Antara lain, TKA hanya boleh untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu.
TKA yang tidak memiliki keterampilan khusus (unskilled workers) tidak diperbolehkan
bekerja di Indonesia.
Jenis pekerjaannya pun adalah pekerjaan tertentu yang membutuhkan keahlian khusus yang
belum banyak dimiliki pekerja lokal, seperti akuntansi internasional, maintenance untuk
mesin teknologi tinggi, dan ahli hukum internasional.
Page 130 of 267.

