Page 202 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 202

MENTERI JANGAN TERPENGARUH ISU RESHUFFLE

              Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju (KIM) semakin kencang berembus pasca video kemarahan
              Presiden  Joko  Widodo  dalam  sidang  kabinet,  Kamis,  18  Juni  lalu,  dipublish.  Ada  beberapa
              menteri  yang  mendapat  teguran  keras.  Khususnya  di  bidang  kesehatan,  keuangan,  hingga
              sosial.

              Pengamat Pemerintahan Unhas, Prof Armin Arsyad mengatakan, reshuffle adalah hak prerogatif
              presiden. Karena itu, isu reshuffle jangan membuat kinerja menteri menurun.

              Harus bekerja maksimal, tanpa memikirkan isu perombakan kabinet.

              Meski tidak menafikan, bahwa dari kaca mata publik ada beberapa menteri yang terlihat memiliki
              kinerja yang kurang maksimal. "Bekerja saja. Jangan terpengaruh isu. Biarkan publik yang nilai.
              Jika memang kinerjanya baik, tetapi diganti itu tidak salah karena banyak faktor. Salah satunya
              politik," katanya.
              Lebih lanjut Dekan FISIP Unhas ini melihat, kinerja kabinet juga bukan dipengaruhi menterinya
              semata. Juga, karena tenaga teknis yang dipilih. Sebab, banyak tenaga teknis dan dirjen dipilih
              bukan karena kemampuan. Tetapi, karena balas jasa. "Ini yang terjadi hingga pemerintahan
              bawah. Harus diubah," akunya.
              Ditambahkannya,  kinerja  buruk  menteri  juga  dikarenakan  tidak  adanya  anggaran  yang
              mengikuti. Sehingga harus ada terobosan yang besar untuk mengakali hal tersebut.

              Contohnya  yang  dilakukan  Menteri  PUPR,  Mochamad  Basoeki  Hadimoeljono.  Ia  sebenarnya
              mengubah regulasi program pembangunan menjadi program multiyear, sehingga pembangunan
              bisa  tetap  dilakukan  meski  dana  kurang.  "Tetapi  khusus  Mentan  SYL  ini  cukup  aman  dan
              berprestasi.

              Gebrakannya tidak kendor meski pandemi covid-19," ucapnya. Pengamat Politik Unhas, Andi Ali
              Armunanto mengatakan reshuffle itu adalah hak dari presiden. Satu tahun pemerintahan Jokowi
              harus dilakukan evaluasi. Ia menilai ada penurunan kinerja kabinet jilid dua Jokowi.

              Ada  beberapa  sektor  yang  mendapat  rapor  merah.  Contohnya  menteri  kesehatan.  Sebelum
              masa pandemi kementerian kesehatan sudah dihantam masalah BPJS Kesehatan. Kemudian
              diperparah  pandemi  covid-19.  Hal  serupa  juga  terjadi  untuk  Menteri  Ketenagakerjaan,  Ida
              Fauziyah yang masih bergelut dengan isu ketenaga kerjaan. Juga diperparah dengan banyaknya
              PHK dan karyawaan dirumahkan selama pandemi covid-19.

              "Reshuffle ini adalah momen untuk memperbaiki kinerja yang kurang dari menterinya. Ini juga
              untuk memperbaiki kinerja politiknya," bebernya.

              Hal yang berbeda diutarakan pengamat politik UIN Makassar Firdaus Muhammad. Ia melihat,
              teguran presiden Jokowi itu sudah tetap. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja kabinetnya.
              "Tetapi,  reshuffle  belum  tepat.  Isu  itu  (reshuffle)  dapat  melahirkan  manuver  partai.  Harus
              dihindari dan menjaga stabilitas politik," tambahnya. (edo-jpg/abg)













                                                           201
   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207