Page 138 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 138

"Mogok  nasional  direncanakan  pada  awal  Desember  2021.  Tanggalnya  kemungkinan  tentatif
              yaitu  6  atau  8  Desember,  namun  belum  ada  keputusan  resmi  dari  semua  gabungan  serikat
              buruh," tutur Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Selasa (16/11/21).

              Ia mengatakan pemogokan akan diikuti sekitar dua juta buruh di lebih dari 30 provinsi, yang
              mana menurutnya hal tersebut sudah sesuai dengan konstitusi Indonesia.

              Selain  itu,  Said  Iqbal  mengungkapkan  buruh  juga  akan  melakukan  aksi  unjuk  rasa  besok  di
              daerah masing-masing di mana dipusatkan di kantor gurbenur hingga DPRD.

              Kemudian KSPI bakal mengajak 60 federasi serikat pekerja tingkat nasional dan 6 konfederasi
              dan  aliansi  konfederasi  untuk  melakukan  aksi  secara  nasional  yang  berpusat  Istana  Negara,
              Kementerian Tenaga Kerja, dan gedung DPR RI.

              "Jadi  mereka  akan  menghentikan  proses  produksi  di  daerahnya  masing-masing  secara
              bergelombang. Salah satunya di Cianjur, Sukabumi, Bogor, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah,
              hingga puncaknya pada Desember 2021," katanya.

              Seperti diketahui, Said Iqbal menyampaikan alasan pihaknya meminta kenaikan upah minimum
              tahun 2022 sebesar 7-10 persen.

              Survei pun dilakukan KSPI di 10 provinsi, tiap provinsi dilakukan survei di 5 pasar tradisional
              dengan menggunakan parameter 60 item Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sesuai UU No 13 Tahun
              2003.
              Hasilnya, didapatlah rata-rata kenaikan UMK/UMP adalah 7 sampai 10 persen. Demikian kata
              Said Iqbal.

              Alasan KSPI menggunakan UU No 13 Tahun 2003, karena saat ini buruh sedang menggugat UU
              Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi (MK).

              "Karena  judicial  review  UU  Cipta  Kerja  belum  incrah,  maka  Undang-Undang  dan  Peraturan
              Pemerintah yang lama masih berlaku," terang Said Iqbal.

              "Bahkan jika menggunakan PP No 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah minimum adalah berkisar
              6 persen. Hampir sama angka kenaikannya dengan mengacu pada KHL," lanjutnya.

              KSPI berpendapat, karena post Covid-19, daya beli masyarakat dan buruh harus dikembalikan
              seperti  awal,  dengan  dinaikkan  upah  minimumnya  minimal  7  persen.  Hal  ini  dilakukan  agar
              konsumsi naik sehingga pertumbuhan ekonomi juga ikut naik.

              Iqbal berpendapat, bagi perusahaan yang terdampak krisis ekonomi dan Covid-19, tidak perlu
              menaikkan UMP atau UMK 2022.

              Semua dibuktikan dengan audit laporan keuangan perusahaan yang mengalami kerugian dalam
              dua tahun terakhir serta diserahkan ke Disnaker dan diumumkan ke buruh.

              Ia  juga  mengatakan,  apabalia  pemerintah  dan  pengusaha  tidak  mempertimbangkan  usulan
              buruh  ini,  kemungkinan  besar  bakal  ada  aksi  yang  lebih  luas  dan  lebih  besar  secara  terus-
              menerus.
              Baca berita asli di Akurat.co






                                                           137
   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143