Page 203 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 203

MINTA KENAIKAN UPAH, 2 JUTA BURUH SIAP MOGOK SERENTAK NASIONAL PADA
              DESEMBER!
              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) berencana akan melakukan aksi mogok serentak
              secara nasional yang direncanakan pada Desember 2021. Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan
              tuntutan  utama  pihaknya  untuk  menolak  penerapan  upah  minimum  oleh  Kementerian
              Ketenagakerjaan pada 2022 sebesar 1,09 persen.

              "Mogok  nasional  direncanakan  pada  awal  Desember  2021.  Tanggalnya  kemungkinan  tentatif
              yaitu  6  atau  8  Desember,  namun  belum  ada  keputusan  resmi  dari  semua  gabungan  serikat
              buruh," tutur Said Iqbal dalam konferensi pers virtual KSPI pada Selasa (16/11/2021).

              Ia mengatakan pemogokan akan diikuti sekitar 2 juta buruh di lebih dari 30 provinsi, dimana
              menurutnya  hal  tersebut  sudah  sesuai  dengan  konstitusi  Indonesia.  Selain  itu,  Said  Iqbal
              mengungkapkan buruh juga akan melakukan aksi unjuk rasa besok di daerah masing-masing
              dimana dipusarkan di kantor Gurbenur, hingga DPRD.
              Kemudian KSPI bakal mengajak 60 federasi serikat pekerja tingkat nasional dan 6 konfederasi
              dan  aliansi  konfederasi  untuk  melakukan  aksi  secara  nasional  yang  berpusat  Istana  Negara,
              Kementerian Tenaga Kerja, dan Gedung DPR RI.

              "Jadi  mereka  akan  menghentikan  proses  produksi  di  daerahnya  masing-masing  secara
              bergelombang. Salah satunya di Cianjur, Sukabumi, Bogor, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah,
              hingga puncaknya pada Desember 2021," katanya.

              Seperti diketahui, Said Iqbal menyampaikan alasan pihaknya meminta kenaikan upah minimum
              tahun 2022 sebesar 7-10 persen. "Berdasarkan hasil survei yang dilakukan KSPI di 10 provinsi,
              di mana di tiap provinsi dilakukan survei di 5 pasar tradisional dengan menggunakan parameter
              60  item  Kebutuhan  Hidup  Layak  (KHL)  sesuai  UU  No  13  Tahun  2003,  didapatlah  rata-rata
              kenaikan UMK/UMP adalah 7%-10%," tutur Said Iqbal.
              Alasan KSPI menggunakan UU No 13 Tahun 2003, karena saat ini buruh sedang menggugat UU
              Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi (MK). "Karena judicial review UU Cipta Kerja belum incrah,
              maka Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang lama masih berlaku," terang Said Iqbal.

              "Bahkan jika menggunakan PP No 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah minimum adalah berkisar
              6 persen. Hampir sama angka kenaikannya dengan mengacu pada KHL," lanjutnya.

              KSPI berpendapat, post Covid-19 maka daya beli atau purchasing power masyarakat dan buruh
              harus  dikembalikan  seperti  awal,  dengan  dinaikkan  upah  minimumnya  minimal  7%.  Hal  ini
              dilakukan agar konsumsi naik, sehingga otomatis pertumbuhan ekonomi ikut naik.

              Iqbal berpendapat bagi perusahaan yang terdampak krisis ekonomi dan Covid-19, maka tidak
              perlu  menaikkan  UMP  atau  UMK  2022  yang  dibuktikan  dengan  audit  laporan  keuangan
              perusahaan yang mengalami kerugian dalam 2 tahun terakhir serta diserahkan ke Disnaker dan
              diumumkan ke buruh.

              "Bila pemerintah dan pengusaha tidak mempertimbangkan usulan buruh ini, maka akan ada aksi
              yang lebih luas dan lebih besar secara terus menerus," tegas Said Iqbal.

              Disampaikan Said Iqbal, hari ini tanggal 10 November terkonfirmasi ribuan buruh melakukan aksi
              di  20  provinsi  dan  melibatkan  1.000  pabrik.  Adapun  tuntutannya  adalah  naikan  UMK  2022
              sebesar 7%--10%, berlakukan UMSK 2022, cabut omnibus law, dan PKB tanpa omnibus law.[].




                                                           202
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208