Page 417 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 417

Dimana dalam pasal 191 a, mengamanatkan upah minimum yang ada saat ini dijadikan sebagai
              dasar untuk penyesuaian (adjusting) nilai upah minimum pada tahun-tahun berikutnya.
              "Belum final hasil penyesuaian UMP bersama tersebut akan diusulkan ke gubernur sebagai bahan
              pertimbangan.  Maka  keputusan  masih  menunggu  penetapan  gubernur  paling  lambat  21
              November mendatang," kata dia.

              Menurutnya, setelah adanya UU Cipta kerja, upah minimum tidak lagi memakai kebutuhan hidup
              layak  (KHL)  seperti  sebelumnya  melainkan  menyesuaikan  pada  kondisi  perekonomian  dan
              ketenagakerjaan.  "Terutama  terkait  daya  beli,  median  upah  dan  tingkat  penyerapan  tenaga
              kerja," ujarnya.

              Lalu besaran UMP tersebut nantinya akan digunakan untuk 11 kabupaten dan kota. Sementara
              enam daerah lain seperti Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas dan
              OKU Timur bakal menetapkan UMK sendiri.

              Sementara  Ketua  DPD  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  (Apindo)  Sumsel  Sumarjono  Saragih
              mengatakan,  pihaknya  tidak  memandang  positif  terkait  besaran  nilai  upah  tersebut  karena
              menganggap  perhitungan  tersebut  sudah  sesuai  dengan  regulasi  yang  ada.  "Apindo  taat
              regulasi, di mana penghitungannya sudah sesuai formula, sehingga tidak ada kenaikan," ujarnya.

              Kendati demikian berdasarkan informasi yang dihimpun, besaran nilai UMP tersebut mendapat
              penolakan dari unsur pekerja dalam rapat dewan pengupahan yang berlangsung Senin (15/11)
              itu ditandai serikat pekerja tidak menandantangani berita acara rapat.

              Alasannya  mereka  menganggap  upah  minimum  seharusnya  dihitung  berdasarkan  atas
              penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

              Unsur pekerja juga menolak penggunaan formula PP nomor 36 tersebut lantaran dinilai tidak
              mencerminkan kondisi buruh yang sebenarnya. Melainkan data yang didapat itu berdasarkan
              survei penduduk secara umum, bukan khusus untuk pekerja.

              Editor : Berli Zulkanedi.



































                                                           416
   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422