Page 58 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 9 JANUARI 2020
P. 58
Seharusnya, sesuai kontrak kerja LS sudah harus pulang pada Januari 2019, setahun
silam. Namun sepekan sebelum hari H kepulangannya, LS ditangkap polisi diraja
Malaysia karena dituduh membunuh bayi yang baru dilahirkan, yang diduga hasil
hubungan di luar nikah.
Kasus LS mulai disidangkan di pengadilan negara di Johor Baru, Malaysia pada April
2019, lalu dilanjutkan sidang kedua pada Mei 2019 dan ketiga pada September 2019.
Dalam persidangan yang telah digelar itu, LS dituntut hukuman mati oleh jaksa
penuntut umum.
Di Malaysia, persidangan kasus pembunuhan seperti dilakukan LS, biasanya memakan
waktu lama, bisa sampai 2-3 tahun. Saat ini, Pemerintah Indonesia dengan
menggunakan jasa pengacara di Johor Baru, sedang memperjuangkan keringanan
hukuman bagi LS, agar terbebas dari ancaman hukuman mati.
Pemkab Trenggalek juga telah menyambangi keluarga LS dalam upaya pendampingan,
termasuk juga kepada pemerintah desa.
Sementara itu, seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Tanjung Balai Karimun,
Provinsi Kepulauan Riau bernama Yatmin (60), divonis 10 tahun penjara pada sidang di
Mahkamah Tinggi Shah Alam, Negara Bagian Selangor, Malaysia, Rabu (8/1/2020),
karena perdagangan manusia.
Pada sidang yang dipimpin hakim Dato' Noorin Binti Badaruddin tersebut, Yatmin
mengakui kesalahannnya. Dalam berkas dakwaannya jaksa penuntut umum Devinderjit
Kajr Gill menyatakan Yatmin pada 9 Januari 2019 di kawasan Laut Pintu Gedung Daerah
Klang Selangor telah melakukan penyelundupan migran.
Penyelundupan migran telah melanggar pasal 26A Undang-Undang Anti Perdagangan
Orang dan Anti Penyelundupan Migran 2007 dan dihukum di bawah pasal 26A undang-
undang yang sama bersama pasal 34 KUHP.
Yatmin bersama dua orang lainnya yang telah mengaku salah telah melakukan
penyelundupan migran sebanyak 18 orang WNI. Yatmin dan kawan-kawannya terjaring
operasi oleh kapal patroli PSC 15.
Saat penangkapan, kapal yang ditumpangi Yamin dalam keadaan mencurigakan dan
berlayar tanpa memasang lampu pengenal. Petugas kemudian menghampiri kapal
bertuliskan KM Intan tersebut. Hasil pemeriksaan terdapat tiga orang selaku tekong dan
awak kapal tersebut.
Di dalam kapal yang sama ditemukan 18 orang migran terdiri 14 laki-laki dewasa dan
empat orang perempuan dewasa WNI. Dalam kapal itu ditemukan tiga buku pelaut
hanya untuk tujuan penangkapan ikan.
Dari 18 orang tersebut, sembilan orang tidak mempunyai dokumen perjalanan yang
sah, sedangkan delapan orang telah tinggal di Malaysia melebihi izin permit (visa kerja)
manakala satu orang lagi menggunakan paspor palsu. Sebanyak 18 orang tersebut akan
diselundupkan keluar Malaysia melalui jalur yang tidak resmi. (ant)
Page 57 of 68.

