Page 572 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 572

“Penggunaan UU Ciptaker dan PP 36/2021 itu mencederai hukum. Sebab, saat ini UU Ciptaker
              sedang  menjalani  judicial  review.  Dengan  demikian,  karena  belum  berketetapan  hukum,
              seharusnya  peraturan  masih  menggunakan  UU  13/2003  tentang  Ketenagakerjaan  dan  PP
              78/2015.

              Lebih lanjut Dedi menyatakan, UU Cipta Kerja No. 11 tahun 2020 dan PP No. 36 tahun 2021
              tentang  Pengupahan  semakin  membuktikan  bahwa  Pemerintahan  Joko  Widodo  memberikan
              “peluang” terhadap pengusaha dan tidak berpihak pada pekerja dan rakyat Indonesia.

              Untuk itu Dedi meminta Presiden Jokowi untuk memenuhi janjinya dalam kampanye Pilpresnya.
              Berdasarkan  catatan  dalam  dokumen  visi  misinya,  pasangan  capres  nomor  urut  01  itu
              menjanjikan sejumlah hal untuk buruh. Janji itu terdapat dalam butir 2.6 terkait pengembangkan
              reformasi ketenagakerjaan.

              DIYelaskan  bahwa  sektor  ketenagakerjaan  memiliki  peran  penting  dalam  peningkatan
              produktivitas dan daya saing bangsa. Untuk itu, upaya perlindungan dan penguatan dilakukan
              dengan beberapa cara, yakni : Janji untuk memperbaiki nasib buruh juga pernah disampaikan
              secara langsung oleh Jokowi saat berkampanye di hadapan para buruh di Kabupaten Bandung,
              Selasa (9/4/2019).

              Jokowi saat kampanye itu berjanji akan merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015
              tentang Pengupahan yang selama ini dikeluhkan oleh para buruh.

              Dedi menerangkan, KSBSI sendiri sudah melakukan survei standar kebutuhan hidup layak (KHL)
              yang selama ini menjadi penentu kenaikan UM berdasar UU 133/2003, diperoleh kenaikan rata-
              rata total KHL 7–10 persen. Lalu, kemudian jika menggunakan PP 78/2015 yang mengacu pada
              inflasi  dan  pertumbuhan  ekonomi,  kenaikan  UM  minimal  4  persen.  ”Dengan  demikian  dua
              variabel tersebut. Menyiratkan Kenaikan upah minimum 5–7 persen. Itu dasarnya,” jelas Dedi.

              “Atas janji kampaye saat itu, Sebaiknya Jokowi harus mengingatkan pada Ida Fauziah selaku
              Menteri Ketenagakerjaan untuk membela dan berpihak pada buruh jelang penetapan UM 2022
              yang akan diputuskan pada 19 November 2021, dan jika yang terjadi pada pengumuman UM
              2022  hanya  terjadi  kenaikan  UM  2022  sebesar  1-2  %  artinya  pemerintahan  Jokowi  tidak
              merespons  tuntutan  buruh  dan  Jokowi  melupakan  janji  kampanyenya,  Maka  KSBSI  beserta
              seluruh Federasi yang berafiliasi beserta Korwil KSBSI di seluruh Indonesia akan mempersiapkan
              mogok kerja secara nasional, ” Pungkas Dedi Hardiato.



























                                                           571
   567   568   569   570   571   572   573   574   575   576   577