Page 590 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 590

kebutuhan hidup selama pandemi dan menghasilkan prosentase kenaikan upah sebesar 16%.
              Hal ini dikarenakan selama ini tingkat upah DIYawa Tengah telah begitu rendah karena secara
              konsisten menerapkan politik upah murah demi menarik minat investor.

              Kesenjangan upah antarkota/kabupaten dan provinsi semakin menjauhkan kesejahteraan yang
              merata,  membuat  antardaerah  berlomba-lomba  memperburuk  pemenuhan  hak  buruh  demi
              meningkatkan minat investor. Tak hanya upah rendah, namun tingginya angka pengangguran
              merupakan  conditio  sine  qua  non  dalam  mempertahankan  rendahnya  upah.  Di  samping  itu,
              buruknya penegakan hukum ketenagakerjaan, pelemahan kekuatan serikat buruh melalui union
              busting,  serta  degradasi  kualitas  lingkungan  juga  akan  menjadi  kondisi  ikutan  dalam  upaya
              memanjakan investor-investor yang sudah kelewat kaya.

              Kesejahteraan yang merata tanpa diskriminasi dengan standar upah layak nasional merupakan
              jalan  yang  patut  dilakukan  oleh  pemerintah.  Upah  layak  nasional  yang  telah  diusung  oleh
              gerakan buruh sejak tahun 2006 dan terus menemukan pembenarnya untuk segera diwujudkan.
              Standar upah layak nasional semestinya mengacu pada kebutuhan riil buruh dan keluarganya
              secara nasional, dimana kebutuhan fisik dan mental buruh serta keluarganya bisa terpenuhi,
              terlebih di masa pandemi. Bukan standar kebutuhan yang sebelumnya selalu dibatas-batasi oleh
              negara dengan standar paling minim, bahkan cenderung tidak manusiawi.

              Dian Septi Trisnanti Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI).


















































                                                           589
   585   586   587   588   589   590   591   592   593   594   595