Page 603 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 NOVEMBER 2021
P. 603

MIRIS, UMP NAIK 1,09 PERSEN DI TENGAH PPN YANG JUGA NAIK DAN PREDIKSI
              INFLASI 2-3 PERSEN
              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  telah  mengumumkan  rata-rata  kenaikan  Upah
              Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022 sebesar 1,09 persen. Kenaikkan nilai tersebut sangat kecil,
              dan dikritik keras oleh para buruh.

              Kritikan ini salah satunya diungkapkan oleh Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek
              Indonesia), Mirah Sumirat.

              Dirinya  mengungkapkan,  Pemerintah  menetapkan  kenaikan  upah  minimum  berdasarkan
              Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, yang merupakan aturan
              turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Aspek Indonesia menyatakan bahwa Pemerintah sedang mempermalukan dirinya sendiri, karena
              terbukti membuat aturan turunan berupa PP No. 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, yang
              justru bertentangan dengan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Dalam UU Cipta Kerja kenaikan upah minimum dihitung hanya berdasar Namun dalam PP No.
              36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, ada tambahan formula baru yang ditetapkan sepihak oleh
              Pemerintah,  yang tidak diatur  dalam  UU  Cipta Kerja,  yaitu penyesuaian  nilai  upah  minimum
              ditetapkan dalam rentang nilai batas atas dan batas bawah.

              Nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per kapita, rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja
              pada  setiap  rumah  tangga.  Nilai  batas  bawah  upah  minimum  dihitung  dari  batas  atas  upah
              minimum dikalikan 50 persen.

              "Formula baru rentang nilai batas atas dan batas bawah dalam PP No. 36 tahun 2021 inilah yang
              membuat kenaikan upah minimum 2022 hasilnya justru di bawah inflasi ataupun pertumbuhan
              ekonomi," jelas Mirah dalam keterangannya kepada Tribunnews, (17/11/2021).

              Ekonom  Center  of  Economic  and  Law  Studies  (CELIOS),  Bhima  Yudhistira  mengungkapkan,
              kenaikan  gaji  yang  cuma  1  persen  dinilainya  kurang  mengakomodasi  kepentingan  dari  para
              buruh.

              Seperti diketahui, saat ini masyarakat masih berada di masa sulit imbas pandemi Covid-19.

              Ditambah lagi, Pemerintah belum lama ini memutuskan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan
              naik, dari 10 persen menjadi 11 persen mulai April 2022. Hal-hal seperti itu dinilainya sangat
              tidak memihak kepentingan pekerja.

              "Tahun depan ada kenaikan PPN 10 sampai 11 persen. Kemudian, kenaikan upahnya cuma 1
              persen, sementara proyeksi inflasi di atas 3 sampai 4 persen di tahun 2022 ke depan.," jelas
              Bhima.

              "Ini sebenarnya cukup berisiko menghambat daya beli masyarakat yang sekarang dalam masa
              pemulihan, dan pertumbuhan kinerja ritel juga berpengaruh," sambungnya.

              Bhima  menghimbau,  agar  para  buruh  atau  pekerja  dapat  menekan Pemerintah  melalui  jalur
              konstitusional atau jalur-jalur lainnya.
              Agar, kepentingan para pekerja dapat lebih dilihat dibandingkan kepentingan para pengusaha.

              "Kalau upah minimum kecil, disarankan pekerja melakukan tekanan secara terus menerus dan
              membuka ketimpangan dan keberpihakan dari Pemerintah," pungkasnya.

                                                           602
   598   599   600   601   602   603   604   605   606   607   608