Page 73 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 73

Lepas dari signifikansinya, sah atau tidaknya pelaksanaan mogok kerja ternyata
               menjadi persoalan pokok dalam kasus PHK AFI. Secara nasional, UU No.13/2003
               tentang Ketenagakerjaan, khususnya Pasal 137 sampai 145, dan Keputusan Menteri
               Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.232/2003 tentang Akibat Hukum Mogok Kerja
               yang Tidak Sah telah mengatur tolok ukur keabsahan ini.

                Berdasarkan paket peraturan tersebut, sah atau tidaknya mogok kerja bergantung
               pada gagalnya perundingan perusahaan dan buruh; kesepakatan penyelesaian
               perselisihan hubungan industrial tidak tercapai. Gagalnya perundingan, selain
               karena perusahaan tak mau melakukannya, juga terjadi akibat perundingan yang
               telah dilakukan rupanya mengalami jalan buntu (  deadlocked  ) yang dinyatakan
               dalam risalah perundingan, baik oleh perusahaan maupun buruh.


                Sekilas, tak ada yang keliru dengan ketentuan ini. Namun, inilah hulu persoalannya.
               Persoalan mendasar terletak pada penggunaan ketentuan prosedural dalam menata
               pelaksanaan mogok kerja. Ketentuan prosedural ini merujuk pada adanya keharusan
               para pihak untuk menyatakan dalam sebuah risalah tertulis, bahwa perundingan
               telah gagal lantaran  deadlocked  .

                Dengan adanya prasyarat yang tidak hanya prosedural, namun juga formalistis dan
               maha-kaku ini, mogok kerja akan selalu dianggap tidak sah bila tidak ada
               pernyataan tertulis sebagaimana disebutkan tadi, walaupun perundingan telah
               dilakukan berkali-kali, bahkan berpuluh-puluh, beratus-ratus, hingga beribu-ribu kali.
               Ini tak ubahnya yang terjadi dalam kasus PHK AFI terhadap buruh-buruhnya.


                Mogok kerja, padahal, merupakan wujud dari kebebasan berekspresi; sebuah
               kebebasan yang secara alamiah telah melekat pada diri setiap manusia. Sesuai
               dengan natur kebebasan berekspresi, keberadaan mogok kerja pada buruh pun
               sejak awal sudah sah, bahkan  legitimate  . Jadi, sah atau tidaknya mogok kerja
               pada dasarnya tidak tergantung sama sekali pada aturan hukum apapun, apalagi
               dalam negara demokratis tak ubahnya Indonesia. Artinya, ada logika keliru dalam
               aturan ini.

                Logika keliru tersebut seolah-olah menunjukkan, negara masih terjebak dalam
               jaring-jaring wataknya yang administratif, kuno, dan bahkan ketinggalan zaman.
               Aturan-aturan yang ada seharusnya disusun semata-mata untuk menjamin secara
               optimal pelaksanaan mogok kerja yang damai dan tertib.


                Sebagai perbandingan, keterjebakan negara pada pola prosedural-formalistis ini
               juga terjadi dalam sektor yang lain. Misalnya, dalam penataan ruang kebebasan
               beragama atau berkeyakinan melalui syarat-syarat kuantitatif dalam pendirian
               tempat ibadah. Bahkan, dampak yang satu ini telah menyebabkan banyak
               malapetaka sosial dalam bentuk intoleransi dan ancaman-ancaman terhadap
               kebebasan beragama atau berkeyakinan.

                Sebuah Tawaran Alternatif  PHK yang dilakukan AFI di tengah mogok kerja para
               buruh menunjukkan timpangnya relasi kuasa antara perusahaan dan buruh. Mogok
               kerja sudah sepatutnya tidak hanya dipahami sebagai aksi sosial para buruh, namun



                                                       Page 72 of 175.
   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77   78