Page 94 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MARET 2020
P. 94

"Siapapun yang jadi pemimpin negara, pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi
               pendukung tidak boleh diam, tidak boleh pasif agar dia tahu mana yang salah
               tentang keputusan yang sudah dilakukan," ucapnya.


               Draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja telah diserahkan pemerintah ke DPR RI pada
               Rabu (12/2). RUU ini adalah usulan Joko Widodo dalam periode kedua
               pemerintahannya.

               Aturan tersebut menggabungkan 79 undang-undang untuk merampingkan
               perundang-undangan. Jokowi mengklaim RUU itu dapat menarik investasi asing
               karena mampu menciptakan kemudahan melakukan usaha.


               RUU itu memicu penolakan dari berbagai kalangan masyarakat, terutama dari
               serikat pekerja. Serikat buruh yang tergabung dalam Majelis Pekerja Buruh
               Indonesia bakal menggelar aksi di di 24 provinsi pada 23 Maret mendatang.

               Berpotensi Picu Gejolak  Pengamat Hukum Universitas Indonesia Andri W. Kusuma
               menilai Omnibus Law akan memicu gejolak bila dipaksakan untuk disahkan.


               Menurut Andri, Omnibus Law berpotensi melanggar prinsip hukum tata negara.
               Bahkan, kata dia, omnibus law dapat menarik kembali kewenangan daerah ke
               pemerintah pusat.

               Pelanggaran paling mendasar, kata Andri, adalah Undang-Undang dapat dicabut dan
               digantikan hanya dengan Peraturan Pemerintah.


               "Ini jelas melanggar UUD kita dan mengkebiri kewenangan DPR selaku legislator,
               yang lebih parah Perda dapat dicabut, belum lagi peraturan-peraturan lain yang
               saling tumpang tindih," katanya kepada  CNNIndonesia.com  , Rabu (11/3).

               Dia menambahkan, maksud dari Omnibus Law ini awalnya mungkin hampir sama
               dengan ide kodifikasi saat rezim hukum perdata jaman belanda yang menghasilkan
               Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Saat ini, di Belanda, kata dia, sudah sekian
               kali mengalami revisi.

               Namun, kata dia, kalau dilihat isi dari omnibus law, bukanlah seperti yang dilakukan
               di kodifikasi hukum perdata. Kodifikasi di jaman Belanda lebih bertujuan untuk
               mempermudah masyarakat dan penegak hukum untuk mempelajari dan memahami
               hukum, yang tadinya beberapa rezim hukum diatur dalam aturan sendiri-sendiri,
               menjadi dibukukan.


               "Ini berbeda sekali dengan Omnibus Law," katanya.

               Dia mencontohkan, aturan di Omnibus Law seperti terbukanya peluang tenaga kerja
               kasar asing (  unskill labour  ) dapat bekerja di RI.

               "Tentu ini melanggar prinsip kita bernegara, perlindungan terhadap warga negara,
               filosofi UU ketenagakerjaan, bahkan UUD," katanya.





                                                       Page 93 of 175.
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99