Page 60 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 DESEMBER 2019
P. 60

Mayoritas PRT belum terorganisir dan belum ada wadah yang mempresentasikan
               dalam melakukan pendampingan, pembelaaan terhadap PRT yang mengalami
               masalah atau kasus.

               Menurutnya, hal hal seperti itu belum diatur dalam Permenaker No.2/2015. Di
               samping itu, hak libur dan cuti bagi pekerja juga tidak memiliki pengaturan yang
               jelas.

               Dalam pasal 7 Permenaker nomor 2/2015 huruf (e) dan (f) disebutkan bahwa PRT
               mempunyai hak waktu istirahat yang cukup dan hak cuti sesuai dengan
               kesepakatan.

               Sedangkan dalam usulan JALA PRT Indonesia, mereka meminta bahwa PRT berhak
               atas libur mingguan sekurang-kurangnya 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 pekan
               dan waktu melaksanakan ibadan tidak termasuk jam istirahat. Untuk cuti, mereka
               meminta agar PRT memiliki hak cuti 12 hari/tahun.


               Selain hak cuti dan libur, beberapa poin usulan lainnya yaitu, PRT harus
               mendapatkan jaminan sosial dengan peraturan perundangan- undangan yang
               berlaku seperti jaminan kesehatan nasional sebagai peserta KIS PBI & jaminan
               ketenagakerjaan. Serta, jaminan keselamatan & kecelakaan kerja, jaminan
               kematian, jaminan hari tua.

               PRT juga berhak atas tunjangan hari raya sesuai dengan agama dan
               kepercayaannya seperti pekerja lain pada umumnya yang paling lambat diberikan
               14 hari sebelum hari raya. THR diberikan dengan besarannya minimal 1x upah
               kerja/bulan.

               Kemudian, hubungan kerja antara PRT dan majikan dibuat dalam perjanjian kerja
               tertulis hal ini dimaksudkan untuk mencegah pelanggaran hak-hak yang faktanya
               selama ini terjadi pada PRT yang bekerja di wilayah privat.

               Lita menuturkan, sebetulnya, rancangan undang-undang ini sudah diajukan sejak
               2004 dan baru masuk prolegnas pada 2010. Naas, usulan itu kemudian tergusur dan
               tidak dibahas hingga saat ini.

               Dalam hal ini dia mengatakan bahwa RUU ini hanya diperuntukkan bagi PRT dalam
               negeri. Namun, beleid ini juga bisa menjadi bargain bagi Indonesia meminta
               perlindungan atas PRT nya kepada negara tujuan.


               "Ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam berikan perlindungan bagi PRT.
               Filipina itu sudah memiliki UU sehingga pekerja migrannya juga lebih terlindungi.
               Kita juga  ingin membentuk relasi yang seimbang, antara pemberi dan penerima
               kerja."


               Divisi Advokasi Kebijakan Migrant Care Siti Badriyah mengatakan, selama ini kondisi
               PRT dalam negeri juga sama rentannya seperti PRT di luar negeri. Sehingga perlu
               ada payung hukum yang kuat untuk perlindungan para pekerja tersebut.





                                                       Page 59 of 82.
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65