Page 159 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 159

pelanggaran keimigrasian. Dan terakhir, informasi yang kami terima dari imigrasi
               Hong Kong, yang bersangkutan diputuskan untuk dideportasi dan sudah kembali ke
               Indonesia pada tanggal 2 Desember dengan pesawat Cathay Pacific menuju
               Surabaya.


               Berdasarkan cerita Yuli, kasusnya memang persoalan overstay. Tapi
               Imigrasi Hong Kong menyampaikan kepada majikan Yuli kalau kasus
               ART-nya 'spesial'. Apa Kemenlu tahu info soal ini?

               Jadi, informasi yang kami terima itu adalah yang bersangkutan melakukan
               pelanggaran keimigrasian. Pelanggaran keimigrasian tersebut sudah terbukti di
               pengadilan bahwa dia overstay dan tidak memperpanjang izin tinggal. Jadi, kami
               tidak bisa menjelaskan yang mana yang spesial gitu ya. Tentunya majikannyalah
               yang bisa menjelaskan. Kami hanya bicara mengenai fakta di persidangan karena
               fakta di persidangan kan ter-record. Kami hanya bisa menjelaskan bahwa yang kami
               terima yang ter-record itu adalah kasus keimigrasian dan itu terbukti.


               Berarti tidak ada laporan soal kasus "spesial" itu?

               Yang kami pantau memang yang bersangkutan juga punya aktivitas tapi kami tidak
               ingin berspekulasi apakah itu kemudian terkait dengan kasus hukumnya. Nah, itulah
               pentingnya kami melakukan pendampingan. Artinya, yang bersangkutan sudah
               memilih sendiri pengacaranya. Pejabat KJRI kemudian hadir di persidangan. Ini
               sebagai bentuk pendampingan kita untuk memastikan bahwa hak-hak yang
               bersangkutan dipenuhi oleh otoritas Hong Kong.

               Beberapa kelompok masyarakat sipil menduga alasan deportasi lebih
               kepada aktivitas Yuli memberitakan demonstrasi Hong Kong daripada
               alasan overstay. Bagaimana tanggapan Kemenlu?

               Kami tidak dalam posisi untuk menduga-duga. Kami tidak ingin berspekulasi. Yang
               pasti adalah secara hukum positif di imigrasi Hong Kong, bagi yang tinggal overstay,
               itu ada sanksi pidana. Itu yang tertulis. Jadi, (itu) kewenangan dan kedaulatan Hong
               Kong untuk menerapkan undang-undangnya.

               Kami tidak bisa menduga-duga apakah ada kaitan atau tidak. Yang kami bisa pantau
               adalah dalam proses persidangan yang didakwakan kepada yang bersangkutan
               adalah pelanggaran keimigrasian, bukan aktivitas yang bersangkutan terkait dengan
               tulisan-tulisan yang bersangkutan.


               Nah, terkait dengan pelanggaran keimigrasian dan itu sudah terbukti. Yang
               bersangkutan pun mengakui. Jadi, kami berpegang pada proses yang ada di formal
               pengadilan.


               Yuli bercerita bahwa kasus overstay yang dialami oleh pekerja migran, baik dari
               Indonesia maupun negara lain, itu wajar terjadi. Menurut cerita-cerita yang dia
               dapatkan dari teman-temannya, kasus overstay di Hong Kong seperti yang dialami
               Yuli bisa diselesaikan melalui permohonan maaf yang diajukan oleh majikan kepada




                                                      Page 158 of 176.
   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164