Page 109 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 JANUARI 2020
P. 109

Title          SERIKAT BURUH GERAM DENGANOMNIBUS LAWCIPTA LAPANGAN KERJA
               Media Name     republika.co.id
               Pub. Date      22 Januari 2020
                              https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/20/01/22/q4gjwl377 -serikat-buruh-
               Page/URL
                              geram-dengan-omnibus-law-cipta-lapangan-kerja
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive











               Serikat pekerja dan buruh menolak hadirnya Omnibus Law Cipta Lapangan kerja.
               Setidaknya ada enam hal yang menjadi poin penolakan mereka atas hadirnya aturan
               baru ini.

               Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Mirah Sumirat menyebut enam poin ini
               dinilai sangat mengusik dan membuat para buruh marah. Poin pertama yang
               menjadi pembahasan adalah adanya upah yang dihitung berdasarkan jam kerja.

               Hal ini dinilai akan menghapus upah minimum (UMP) yang selama ini telah diatur
               oleh pemerintah.

               "Misal upah perjam itu Rp 20 ribu, dan dalam sehari si A kerjanya delapan jam.
               Berarti sehari dia dapat 160 ribu. Tapi kalau buruh ini kan ada yang tidak kerja
               penuh satu bulan. Kalau dia hanya kerja selama dua minggu, maka ini di bawah
               upah minimum dan efeknya menghapus UMP," ujarnya saat dihubungi
               Republika.co.id, Selasa (21/1).

               Hal kedua yang dipermasalahkan terkait upah pesangon. Ia menyebut kehadiran
               upah per jam akan mempengaruhi upah pesangon yang didapat oleh pekerja.
               Hitungan upah pesangon didapat dari berapa gaji yang didapat selama sebulan.

               Mirah menyebut upah pesangon ini rencananya akan diganti dengan tunjangan
               pengangguran selama enam bulan. Jumlahnya tentu tidak sepadan dengan upah
               pesangon yang bisa didapat oleh pekerja.

               Terkait upah perjam yang diberlakukan, ia menyebut akan berdampak pula pada
               jaminan sosial yang didapat pekerja. Di antaranya BPJS Kesehatan dan BPJS
               Ketenagakerjaan.

               Pengitungan jaminan sosial ini lagi-lagi didasarkan pada upah minimum perbulan
               yang didapat oleh pekerja. Jika upah pokok saja tidak jelas, maka penghitungan
               untuk jaminan sosial pun akan menjadi kabur.

               "Berikutnya yang kita tolak adalah perluasan income tenaga asing. Sebelum
               omnibus law ini saja, sudah ada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker)



                                                      Page 108 of 152.
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114