Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 106

Pemerintah China belum merespons resmi laporan itu dan belum juga menjawab
               pertanyaan BBC News Indonesia mengenai hal itu.


               Data dari Migrant Care menunjukkan mereka menerima 205 aduan kekerasan
               terhadap ABK Indonesia di kapal asing, juga gaji yang ditahan, dalam kurun waktu
               delapan tahun belakangan.

               'Tidur hanya tiga jam, makan 'umpan ikan', hingga pengalaman pahit makamkan
               jenazah teman: Cerita ABK Indonesia di kapal China WNI kembali diculik Abu
               Sayyaf, Kemlu imbau awak kapal tak melaut di seputar kawasan rentan penculikan
               WNI terakhir yang disandera Abu Sayyaf di Filipina Selatan berhasil dibebaskan


               Koordinator National Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, M. Abdi Suhufan,
               menyebut konflik di kapal sering terjadi karena ABK asal Indonesia tidak dibekali
               kemampuan bekerja di atas kapal asing.

               "Ada ABK asal Indonesia yang aslinya tinggal di daerah pegunungan dan tidak
               mengerti cara melaut, nggak ngerti alat pancing, jaring. Kemampuan bahasa juga
               tidak dibekali," ujar Abdi.

               "Kadang-kadang mereka salah mengerti (perintah bahasa asing). Itu yang mungkin
               membuat suasana kerja menjadi tegang hingga akhirnya terjadi konflik di atas
               kapal," ujarnya.

               Jika hal ini tak dibenahi, Abdi mengatakan praktik kekerasan di kapal asing yang
               menimpa ABK Indonesia 'akan terus berulang'.

               'Kami nggak mengerti, lalu dibentak'


               Salah seorang ABK, Andrisen Ulipi, 23, menceritakan ia tak menyangka cara bekerja
               di kapal ikan asing sangat berbeda dengan pengalamannya bekerja di kapal kargo
               Indonesia.


               Pria asal Manado itu memutuskan menjadi ABK di kapal ikan berbendera China
               tahun 2019.

               Dia mendaftar di sebuah agen pengiriman ABK di Pemalang, Jawa Timur, yang
               hanya mensyaratkannya menyerahkan KTP, KK, ijazah, buku pelaut, dan paspor.

               Tak ada pembekalan mengenai cara bekerja di kapal ikan atau perkenalan bahasa
               asing. Di kapal itu lah ia baru benar-benar belajar menangkap ikan.

               "Kalau di Indonesia kan pakai jaring agak kecil, di sana (kapal asing) jaring agak
               besar. Baru belajar saat di kapal," ujarnya.

               "(Kami) nggak tahu jahit jaring bagaimana, tapi disuruh jahit. Lalu mandor dan
               kapten marah-marah," ujarnya.







                                                      Page 105 of 313.
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111