Page 254 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 254

Dalam kasus ABK diduga diperbudak di kapal nelayan China kali ini, Shofwan menilai
               Kemenaker seharusnya bisa menyediakan data lengkap menyangkut para ABK itu.
               Dengan adanya data lengkap dari Kemenaker, proses penyelesaian secara tuntas
               dan adil bagi para ABK bisa lebih mudah dilakukan.


               "ABK ini harus dilacak, ini direkrut dari mana, mulai kerja kapan. Ini harusnya ada
               datanya. Dan data ini bisa menjadi alat menunjukkan bahwa ini memang ada
               kejahatan yang struktural, gitu," tuturnya.

               Bersamaan, Shofwan juga mendorong agar Pemerintah Indonesia memperkuat lagi
               kendali maritim, dengan memaksimalkan peran Kementerian Kelautan dan
               Perikanan dan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi.

               Selain itu, spesifik terkait penyelesaian masalah kejahatan di perairan, Indonesia
               dalam hal ini perlu mendorong tercapainya kesepakatan internasional terkait illegal
               fishing. Dunia harus sepakat menyatakan illegal fishing sebagai tindak kriminal.

               Hal ini agar penanganan kasus seputar illegal fishing---yang seringkali berkaitan
               dengan kriminalitas lainnya---bisa dilakukan secara tuntas, melalui ruang hukum
               yang tegas.

               "Kriminalisasi terhadap IUU (illegal, unreported, and unregulated) fishing belum
               menjadi kesepakatan internasional. Kita harus mendorong kriminalisasi di tingkat
               internasional terhadap illegal fishing, untuk mencegah kejadian seperti ini terulang
               lagi," jelasnya.

               Diberitakan sebelumnya, dugaan perbudakan ABK di kapal berbendera China
               menyedot perhatian publik akhir-akhir ini. Perbudakan itu diakui oleh beberapa ABK
               WNI dalam siaran salah satu stasiun televisi di Korea Selatan.

               Para ABK itu mengaku bekerja berdiri selama 30 jam dalam sehari. Mereka juga
               mengakui diskriminasi yang diterima ABK WNI. Di kapal tersebut, ABK China
               meminum air botolan dari darat, sementara para WNI minum air laut yang disuling.
               Setiap kali minum air tersebut, mereka mengaku sakit.


               Untuk pekerjaan di lautan selama 13 bulan, lima orang ABK WNI di kapal tersebut
               mengaku hanya menerima USD 120 atau Rp 1,8 juta.


               Karena perlakuan buruk tersebut, tiga orang WNI dilaporkan meninggal dunia di
               kapal tersebut. Dalam video yang diperoleh salah satu media televisi Korea Selatan
               (Korsel), terlihat jasad WNI dimasukkan ke dalam peti lalu dilarung ke lautan.

















                                                      Page 253 of 313.
   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259