Page 281 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 281
langsung berpengaruh kepada semua aktivitas dan mobilitas, apalagi kini
pemerintah juga secara tegas melarang mudik dengan asumsi untuk menekan
sebaran virus korona. Praktis semua itu berpengaruh bagi kegiatan ekonomi bisnis.
Bahkan, harapan publik agar Korona bisa lenyap saat memasuki bulan puasa
ternyata belum terbukti dan pemerintah melanjutkan pembelajaran daring di semua
jenjang pendidikan sampai akhir tahun 2020.
Problem kompleks yang terjadi di sektor bisnis dan industri secara tak langsung
berpengaruh terhadap nasib pekerja dan buruh. Fakta ironi lain yaitu ancaman
gelombang PHK secara massal. Bahkan, sejumlah maskapai merancang PHK,
termasuk misalnya maskapai SAS dari Skandinavia yang merumahkan 5.000
pekerjanya karena pariwisata mati suri terdampak virus Korona, selain telah
merumahkan 1.900 pekerja di Swedia, mereka juga melakukannya dengan 1.300
orang di Norwegia dan 1.700 orang di Denmark. Padahal, mata rantai di sektor
pariwisata kompleks sehingga beralasan jika industri kerajinan dan kuliner juga
terdampak dan juga merumahkan pekerja.
Garuda Indonesia selaku maskapai plat merah berkomitmen memangkas gaji
pekerja karena jumlah penerbangan kian menurun drastis sementara pemerintah
telah memastikan larangan mudik. Begitu juga PT KAI yang akhirnya harus
mengembalikan tiket mudik yang telah habis dipesan ribuan calon pemudik. Selain
itu ratusan armada AKDP - AKAP juga dikandangkan sehingga sopir dan kernet di
semua armada transportasi darat dipastikan tak bisa beroperasi, belum lagi armada
laut juga melakukan hal yang sama karena ada larangan mudik dan WFH.
Yang juga ironi ternyata ribuan bisnis usaha rintisan (startup) juga melakukan PHK,
padahal keberadaan startup di tahun 2019 kemarin diharapkan mampu
mendongkrak perekonomian dan juga menyerap jutaan pekerja karena sifatnya
cenderung padat karya. Realitas ini juga terjadi di sektor informal dan UMKM
sehingga korban PHK akibat pandemi Korona sangatlah besar bagi sektor
ketenagakerjaan atau buruh pada umumnya.
Mengacu data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang dirilis 11 April 2020
kemarin ternyata lebih dari 1,5 juta orang di Indonesia telah kehilangan pekerjaan
sebagai dampak sistemik dari sebaran virus Korona. Rincian dari kasus tersebut,
yaitu 10,6% di PHK, 89,4% dirumahkan. Data PHK yaitu 160.067 pekerja dari
24.225 perusahaan dan yang dirumahkan 1.080.765 pekerja berasal dari 27.340
perusahaan. Fakta ini seolah menganulir penegasan Presiden Joko Widodo (Jokowi)
ketika menyampaikan kebijakan WFH yang saat itu berharap industri tidak
melakukan PHK sepihak. Padahal, tren PHK dan merumahkan karyawan sejak
korban pertama di Indonesia ditemukan sampai pengumuman WFH dan larangan
mudik terus meningkat sehingga apa yang dikhawatirkan dengan PHK massal
tinggal menunggu waktu saja.
Sampai kapan tren PHK massal dan merumahkan pekerja akan terjadi?. Pertanyaan
ini susah untuk dijawab, bahkan dunia usaha dan industri sendiri tidak yakin
terhadap optimisme ekonomi, termasuk juga koreksi prediksi pertumbuhan ekonomi
Page 280 of 313.

