Page 284 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MEI 2020
P. 284
mengupayakan perlindungan terbaik kepada ke-14 ABK dan ahli waris dari 4 ABK
yang gugur dalam tugas.
Yaqut menceritakan, ia mendapat kabar dugaan TPPO yang menimpa 18 ABK asal
Indonesia tersebut langsung dari Ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI)
Korea Selatan, Ari Purboyo. Ari mengatakan, ke-18 ABK tersebut sudah mengarungi
lautan lepas semenjak setahun lalu. Menurut keterangan salah satu ABK yang
disampaikan ke Ketua SPPI Korea Selatan, mereka hanya digaji sebesar 140.000
won atau setara Rp 1,7 juta setelah 13 bulan bekerja.
Yaqut menambahkan, kabar ini juga dibenarkan Ketua Umum SPPI, Ach. Ilyas
Pangestu. Keterangan Ilyas, kapal tuna bernama Longxing 629 itu berbendera
Republik Rakyat China dan milik perusahaan bernama Dalian di China. Kata Ilyas,
Longxing 629 berangkat dari Busan, Korea Selatan, pada 14 Februari 2019, menuju
laut lepas. Setelah 15 hari berada di laut lepas di sekitar Samoa, kapal ini mulai
menangkap ikan tuna. Kapal tersebut menangkap ikan selama 8 bulan dan berhenti
menangkap ikan tuna setelahnya.
Kepda Yaqut, Ilyas menjelaskan bahwa pada bulan Desember 2019, dua ABK asal
Indonesia jatuh sakit. Karena sakitnya semakin serius, para kru mendesak kapten
kapal untuk melabuhkan kapal agar kedua ABK tersebut mendapatkan penanganan
medis yang memadai. Akan tetapi kapten kapal menolak dengan alasan tidak
mendapatkan otorisasi dari perusahaan.
Menurut keterangan Ilyas, tanggal 22 Desember 2019 pagi, seorang ABK dengan
inisial (S) meninggal dunia. Kapten kapal lantas melarung jenasah (S) ke laut pada
sore di hari yang sama. Kemudian pada tanggal 27 Desember 2019, seorang ABK
lain yang sakit dipindahkan ke kapal lain, Longxing 802 yang sedang perjalanan
menuju pelabuhan terdekat di Samoa. Setelah 8 jam berada di di Longxing 802, ABK
yang berinisial (Al) meninggal dunia, dan juga dilarung ke laut.
Karena kejadian ini, lanjut Ilyas, kru Longxing 802 panik dan minta dipulangkan.
Longxing 802 berlayar kembali ke Busan. Pada tanggal 27 Maret 2020, para ABK
tersebut dipindahkan ke kapal lain yang bernama Tian Yu 8 yang sedang perjalanan
ke Busan. Pemindahan ini untuk menghindari kemungkinan penolakan berlabuhnya
kapal Longxing karena adanya insiden kematian.
Pada 29 Maret 2020 ketika Tian Yu 8 mendekati perairan Jepang, seorang ABK yang
berinisial (Ar) meninggal dunia, dan juga dilarung ke laut. Kapal tiba di Busan pada
24 April 2020. Melalui tugboat semua ABK dibawa ke imigrasi, setelah itu dikarantina
di sebuah hotel dikarenakan adanya pandemi Covid-19.
Selain itu ada satu ABK lagi atas nama (Ef) yang meninggal dunia saat perjalanan ke
rumah sakit pada tanggal 27 April 2020, sehingga total ABK yang gugur dalam tugas
ada 4 WNI, sedangkan yang dikarantina di Busan saat ini ada 14 orang..
Page 283 of 313.

