Page 92 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 OKTOBER 2019
P. 92

Selain tenaga kerja, kebijakan kenaikan cukai ini akan berpengaruh pada kinerja
               industri secara umum. Hanya saja, lagi-lagi Abdul belum bisa memperkirakan potensi
               penurunan industri secara umum dari kebijakan cukai tahun depan.

                "Harusnya ada (dampak ke industri secara keseluruhan). Saya belum bisa prediksi,"
               ucap Abdul.

                Kalau ini sampai terjadi, pemerintah bisa dibilang kembali gagal mengerek
               pertumbuhan industri tahun depan. Diketahui, kinerja industri terus melambat beberapa
               waktu terakhir.

                Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan industri kuartal II 2019 hanya
               3,54 persen. Realisasi itu berada di bawah pertumbuhan ekonomi yang menyentuh 5
               persen dan turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,88
               persen.


                 Untuk itu, pemerintah akan melakukan mitigasi risiko dengan melakukan penggunaan
               Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk sektor tembakau dan
               perkebunan. Hal ini guna mengurangi dampak terhadap tenaga kerja.

                "Pemerintah akan melakukan mitigasi dampak tersebut antara lain dengan melakukan
               penggunaan DBHCHT untuk mendukung sektor perkebunan tembakau, pelatihan
               tenaga kerja, dan industri hasil tembakau," ujarnya.

                Dari sisi pelaku industri, Ketua Komunitas Kretek Indonesia Aditia Purnomo mengaku
               pesimis dengan nilai penjualan tahun depan. Masalahnya, harga rokok akan naik
               signifikan lantaran peningkatan cukai kali ini jauh lebih besar dibandingkan biasanya
               yang hanya sekitar 10 persen.

                "Karena itu penjualan rokok tahun depan hampir pasti turun signifikan. Produksi akan
               berkurang," ucap Aditia.

                 Jika melihat data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), jumlah pabrik rokok
               sebenarnya sudah turun sejak 2011 lalu. Semula yang jumlahnya 2.540 pada 2011
               turun menjadi hanya 487 pabrik pada 2017.

                "Karena industri rokok ini banyak, bukan hanya yang besar-besar. Ada yang pabrik-
               pabrik menengah ke bawah. Itu mereka akan megap-megap dengan kebijakan yang
               ada. Sudah mereka sulit bertarung di pasaran, kebijakan yang ada juga membuat
               mereka semakin sulit untuk memproduksi," jelas Aditia.


                Senada, Ekonom Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menyatakan penurunan
               penjualan industri akan membuat perusahaan terpaksa memangkas jumlah pekerjanya.
               Alhasill, jumlah karyawan yang terkena PHK pun bertambah, sehingga tingkat
               pengangguran terbuka (TPT) pun rentan naik.

                "Rokok itu kan industri padat karya, pengaruhnya ke PHK juga nanti karena kan
               permintaan rokok juga berpengaruh," terang Telisa.

                Proses perajangan dan penjemuran tembakau. (  CNN Indonesia/Galih Gumelar).




                                                       Page 91 of 146.
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97