Page 88 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 JULI 2020
P. 88

Hal ini mengemuka dalam diskusi Masalah Pemidanaan dan Potensi Kerugian Sosial RUU Cipta
              Kerja.



              PUKAT UGM NILAI SANKSI PIDANA DI RUU CIPTA KERJA TAK JELAS

              Yogyakarta,  Pusat Studi Anti korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) menilai RUU Cipta
              Kerja tak sesuai dengan nilai-nilai antikorupsi dan tak jelas merumuskan sanksi pidana.

              Hal ini mengemuka dalam diskusi Masalah Pemidanaan dan Potensi Kerugian Sosial RUU Cipta
              Kerja. "Dibanding dengan pengaturan di dalam berbagai UU yang sebelumnya, RUU Cipta Kerja
              memuat perumusan konsep pemidanaan yang masih kabur," ujar peneliti Pukat UGM Eka Nanda
              Ravizki dalam pernyataan tertulis yang diterima Gatra.com, Rabu (22/7).

              Eka  mengungkapkan  perumusan  sanksi  pidana  dalam  RUU  Cipta  Kerja  tidak  jelas  karena
              mencampuradukkan sanksi pidana dan sanksi administratif. Menurutnya, substansi pemidanaan
              di RUU itu telah mengelabui publik.


              "Sebab ketentuan lebih lanjut berkaitan dengan sanksi akan diatur dalam Peraturan Pemerintah,
              meskipun sebenarnya PP tidak boleh mengatur ketentuan pidana," kata dia.

              Eka  mencontohkan  hal  itu  pada  pasal  yang  mengatur  soal  perlindungan  dan  pengelolaan
              lingkungan hidup. Jika aturan sebelumnya memberi sanksi pidana dan denda, RUU Cipta Kerja
              hanya akan memidana jika pelanggar tak memenuhi sanksi administratif.

              Selain itu, RUU Cipta Kerja berpotensi menimbulkan kerugian sosial. Penggunaan pendekatan
              perizinan berbasis risiko di RUU ini harus dibatalkan karena konsep tersebut takjelas rujukannya.

              Rimawan Pradiptyo, pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, menyebut aspek perizinan
              berbasis  risiko  atau  Risk  Based  Approach  (RBA)  di  RUU  Cipta  Kerja  ternyata  berbeda  dari
              literatur selama ini.

              Menurutnya, pendekatan tersebut sebaiknya dibatalkan karena pemerintah belum siap untuk
              menerapkan RBA dalam RUU Cipta Kerja. "Indonesia belum memiliki database yang mumpuni
              yang mampu mengidentifikasi risiko secara tepat," kata dia.

              Selain itu, identifikasi masalah dalam naskah akademik RUU Cipta Kerja dan solusi-solusinya
              tidak  cocok.  "Pada  dokumen  naskah  akademik  RUU  Cipta  Kerja,  aspek  kelembagaan  diakui
              masih lemah, tetapi perbaikan yang diperlukan terhadap aspek kelembagaan tidak tercantum
              dalam RUU," tuturnya.

              Peneliti Pusat Pendidikan dan Kajian Antikorupsi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Fira
              Mubayyinah, menyebut pentingnya penerapan nilai-nilai antikorupsi dalam perumusan sebuah
              UU.

              "Pengaturan dalam RUU Cipta Kerja tidak sejalan dengan nilai-nilai anti korupsi. Sebagai contoh,
              sentralisasi perizinan akan membuka keran risiko perilaku korupsi seperti zaman Orde Baru,"
              kata dia.

              Contoh lainnya, kata Fira, RUU Cipta Kerja mencabut perlindungan dan hak-hak rakyat dan
              kaum buruh. Ia menilai hal ini sebagai perbuatan koruptif karena seharusnya hak-hak tersebut
              diberikan.

              Di sektor ekonomi, RUU Cipta Kerja juga memosisikan UMKM sebagai pemasok perusahaan-
              perusahaan  besar.  Kesenjangan  kedudukan  ini  tidak  sesuai  dengan  nilai  anti  korupsi  untuk
              memberikan sesuatu sesuai dengan porsinya.
                                                           87
   83   84   85   86   87   88   89   90   91   92   93