Page 51 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 JANUARI 2020
P. 51

Title          KSPI KLAIM OMNIBUS LAW HAPUS JAMINAN PENSIUN-KESEHATAN
               Media Name     detik.com
               Pub. Date      26 Januari 2020
                              https://news.detik.com/berita/4873837/kspi-klaim-omnibus-law-hapus-jam inan-pensiun-
               Page/URL
                              kesehatan
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative













               Jakarta  -  Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (  KSPI  ) menilai akan banyak
               kerugian untuk buruh jika Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja diterapkan. Salah
               satunya terkait jaminan pensiun dan kesehatan buruh diperkirakan akan
               dihilangkan.

                "Bagaimana orang dapat jaminan pensiun? Siapa yang dapat jaminan kesehatan?
               Itu akan dihilangkan, itu otomatis," kata Presiden KSPI Said Iqbal dalam diskusi
               bertajuk 'Omnibus Law Bikin Galau?' di Upnormal Coffee, Jalan Wahid Hasyim,
               Jakarta Pusat, Minggu (26/1/2020)   Said menyebutkan, dalam  omnibus law  itu
               bisa saja diatur soal sanksi kepada pelaku usaha yang merugikan buruh. Pelaku
               usaha bisa saja tidak dikenai sanksi saat telat membayar upah buruh.

                   "Kemudian hal lain yang kami catat, hapuskan efek jera itu. Kalau orang
               terlambat bayar upah nggak ada hukumannya. Nggak ada efek jera karena
               dihapuskan pidana," ungkap Said.

                Said mengatakan pemerintah boleh memancing investasi lebih banyak dengan
               menerapkan  omnibus law  , namun harus tetap memperhatikan perlindungan
               buruh. Enam alasan KSPI menolak  omnibus law  itu disebutnya karena akan
               mengurangi konsumsi.

                "Enam alasan yang kami tolak dalam  omnibus law  itu berpotensi mengurangi
               konsumsi. Misal upah per jam akan berpotensi mengurangi upah minimum. Kalo
               tingkat upah menurun, konsumsi pasti menurun," kata Said.


                "Kemudian menghilangkan pesangon. Orang yang ter-PHK tanpa pesangon dia
               tidak punya daya beli. Dengan demikian,  purchasing  power  -nya turun. Orang
               nggak punya jaminan sosial, jaminan pensiun, jaminan kesehatan," sambungnya.

                Dalam kesempatan yang sama, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman
               Soebagyo, menanggapi pernyataan Said terkait buruh yang bisa saja di PHK. Firman
               menjamin tidak akan ada buruh yang di-PHK secara sewenang-wenang.


                 "Di dalam UU ini, setelah saya baca melalui hiruk-pikuk berita yang ada, pertama
               saya nggak lihat kondisi tenaga kerja  existing  akan diabaikan. Saya tekankan kalau



                                                       Page 50 of 163.
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56