Page 147 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 147

"DPR bisa mengubahnya rakyat bisa mengusulkannya namanya RUU di negara
               demokratis itu bisa diperbaiki selama masa pembahasan dan sekarang sudah
               dimulai proses penilaian oleh masyarakat silahkan aja dibuka," ungkapnya.


                Dikutip dari  Kompas.com,  Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan
               menggelar aksi dan menempuh langkah hukum untuk menolak Omnibus Law Cipta
               Kerja.


                 Hal tersebut disampaikan Presiden KSPI Said Iqbal saat menggelar konferensi
               pers, merespons rencana pembahasan  Omnibus Law  RUU Cipta Kerja di kawasan
               Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (16/2/2020).


                "Secara hukum kami akan lakukan judicial formil. Batalkan semua isi UU  Omnibus
               Law  , tidak hanya tentang ketenagakerjaan ke Mahkamah Konstitusi," ungkapnya.


                Selain itu, pihaknya juga akan melakukan judicial review pasal-pasal mana yang
               merugikan.


                Pihaknya akan meminta MK membatalkan pasal yang merugikan.

                "Berikutnya citizen law suit, gugatan warga negara, karena buruh sebagai warga
               negara dirugikan dengan sikap pemerintah yang sangat kapitalis dan liberal," kata
               dia.

                Menurut Iqbal, adanya  Omnibus Law  RUU Cipta Kerja ini membuat dunia tenaga
               kerja diliberalisasi. Hal tersebut terlihat dari pasal-pasal yang termuat dalam RUU
               tersebut.

                "Orang tidak punya perlindungan terhadap upah dan pendapatan serta orang tidak
               dapat jaminan kesehatan dan pensiun," kata dia.

                Setelah melakukan kajian terhadap RUU Cipta Kerja, ia menilai, apa yang dilakukan
               pemerintah melalui omnibus law hanya omong kosong.

                 "Kami minta DPR secara politik batalkan omnibus law RUU Cipta Kerja, khususnya
               klaster ketenagakerjaan dan semua yang berhubungan dengan ketenagakerjaan,"
               pungkas dia.

                KSPI mengungkapkan sembilan alasan mengapa mereka menolak  Omnibus Law
               RUU Cipta Kerja. Kesembilan alasan itu adalah soal hilangnya upah minimum,
               hilangnya pesangon, penggunaan outsourcing yang bebas di semua jenis pekerjaan
               dan tak berbatas waktu.

                Kemudian jam kerja eksploitatif, penggunaan karyawan kontrak yang tidak
               terbatas, penggunaan tenaga kerja asing (TKA), PHK yang dipermudah, hilangnya
               jaminan sosial bagi pekerja buruh khususnya kesehatan dan pensiun, serta sanksi
               pidana terhadap perusahaan yang dihilangkan.







                                                      Page 146 of 223.
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152