Page 84 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 FEBRUARI 2020
P. 84

Pengaturan ini masih perlu mendapatkan penjelasan aspek mana yang akan
               bersinggungan dengan prinsip persaingan usaha sehat. Apakah ketentuan ini akan
               memberikan perlindungan kepada produsen nasional agar dapat bersaing dengan
               produk luar, atau seperti apa.


               Jika menilik tujuan pemberlakuan SNI, dan prinsip persaingan usaha sehat, maka
               penerapan SNI dan persyaratan teknis jika dilaksanakan secara fair, terbuka,
               berimbang, dan transparan, maka penerapan SNI dan persyaratan teknis akan
               sejalan dengan prinsip persaingan usaha sehat.

                Berikutnya, Pasal 54 RUU Ciptaker mengatur perubahan UU No.2/2017 tentang
               Jasa Konstruksi. Pemerintah berwenang menjamin terciptanya persaingan yang
               sehat dalam pasar jasa konstruksi.

               Pengaturan ini cukup relevan mengingat secara statistik, perkara yang ditangani
               KPPU, sebagian besar (lebih dari 70%) adalah perkara tender pengadaan
               barang/jasa, salah satunya adalah sektor jasa konstruksi.

                Pasal tersebut harus disikapi secara proaktif oleh KPPU dan pihak-pikah terkait,
               seperti Asosiasi Pelaku Usaha di sektor jasa konstruksi dan Lembaga Kebijakan
               Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

               LKPP misalnya, dalam hal penyusunan peraturan dan/atau kebijakan yang berkaitan
               dengan pengadaan barang/jasa bersinergi dengan KPPU sehingga peraturan
               dan/atau kebijakan yang diterbitkan selaras dengan prinsip persaingan usaha sehat.

                Ketentuan terakhir yang berkaitan dengan persaingan usaha dalam tulisan ini
               adalah Pasal 78 yang mengatur perubahan UU No. 36/1999 tentang
               Telekomunikasi. Perubahan yang terkait dengan hukum persaingan usaha adalah
               perubahan Pasal 28 UU Telekomunikasi.


               Disebutkan dalam Omnibus Law, Pasal 28 ayat (2) UU Telekomunikasi mengatur
               mengenai kewenangan Pemerintah Pusat menetapkan tarif batas atas dan/atau tarif
               batas bawah penyelenggaraan telekomunikasi dengan memperhatikan kepentingan
               masyarakat dan persaingan usaha yang sehat.

                Pengaturan tarif batas bawah ini menurut penulis kurang tepat. Jika munculnya
               aturan tarif batas bawah ini disebabkan karena kekhawatiran terjadinya perang tarif,
               maka UU 5/1999 sudah dibekali dengan larangan praktik jual rugi (predatory
               pricing) oleh pelaku usaha.

               Oleh karena itu, jika ada operator telekomunikasi berpraktik jual rugi, maka KPPU
               dengan kewenangannya dapat menegakkan hukum terhadap praktik seperti ini.

                Moderat  Membaca Omnibus Law, khususnya yang terkait dengan hukum
               persaingan usaha, maka penulis menilai usulan Pemerintah cukup moderat. Terlihat
               upaya memberikan perlindungan yang cukup bagi pelaku usaha, khususnya pelaku






                                                       Page 83 of 223.
   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89