Page 629 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 DESEMBER 2021
P. 629

Willy menilai, hal ini jelas membuktikan Wali Kota Medan tidakpeka terhadap kondisi kehidupan
              para buruh yang tingkat kebutuhannya sangat tinggi, hampir sama dengan kota metropolitan di
              Jakarta. "Kita jelas menolak kenaikkan UMK tersebut dan akan menggelar aksi pada 6, 7, dan 8
              Desember 2021 mendatang, yang ditujukan ke Kantor Wali Kota Medan dan Kantor Gubernur
              Sumut I Wali Kota dan Gubsu merevisi UMK Medan Tahun2022," bebernya.

              Dikatakannya, buruh sudah cukup mengalah selama ini. Tahun lalu, alasan pandemi sehingga
              kenaikan UMK Medan juga minim dan diterima kaum buruh.

              "Tetapi mengapa kebijakan kepala daerah dan pemerintah pusat malah terus-menerus selalu
              tidak  punya  hati  nurani?  Wahai  kepala  daerah  lihat  buruhmu  sudah  semakin  miskin.  Kami
              menuntut kenaikan untuk UMK Medan minimal 7-10 persen. Kita sudah siapkan dasar-dasarnya
              nanti jika diminta," tegasnya

              Willy juga menyikapi statemen Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
              (BKPM)  RI,  Bahlil  Lahadalia,  yang  meminta  buruh  berjiwa  besar  menerima  upah  minimum
              provinsi (UMP) yang sudah ditetapkan Pemerintah. Menurut Willy, hal ini sangat menyakiti hati
              kaum buruh di Indonesia.

              Apalagi,  lanjut  Willy,  selama  di  bawah  kepemimpinan  Presiden  RI  Joko  Widodo  (Jokowi),
              kebijakannya  justru  99  persen  ber-pihak  kepada  pengusalia  dan  investor  dengan
              mengatasnamakan investasi

              "Di awal kepemimpinan Jokowi, upah layak bagi buruh tidak pernah terpenuhi, baik UMP atau
              UMK Apalagi saat ini setelah ada UU Cipta Kerja," ujarnya.

              Dia  juga  mengungkapkan,  saat  baru  men-jabat  Presiden  pada  2014,  Jokowi  langsung
              mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Normor 78 Tahun2015, Tentang Pengupahan, di mana
              upah  zaman  Jokowi  periode  pertama  tersebut  tidak pemah  naikdi  atas  10  persen.  Rata-rata
              hanya naik 5-7 persen, hanya berdasarkan hitungan inflasi plus pertumbuhan ekonomi saja.
              PP  78  tersebut  saja,  lanjut  Willy,  sudah  sangat  mengebiri  dan  memiskinkan  buruh.  Padahal
              sebelum PP itu dikeluarkan, upah buruh Indonesia bisa tembus di atas 10-20 persen.

              "Kami jugadulumenolaktegas dengan aksi-aksi besar, namun lagi-lagi Jokowi tak menggubris.
              Bisa Bapak Bahlil bayangkan, sejak 2015, upah buruh sudah dimurahkan. Kami sudah mengalah,
              suara kami tidak digubris hingga Pemilu 2019," tegasnya.

              Belum lagi, dalam periode pertamanya, Jokowi juga telah memberikan kebijakan pengampunan
              pajak  pada  pengusaha  pengemplang  pajak  yang  dinamakan  Tax  Amnesty,  dan  kebijakan
              ekonomi lainnya untuk kemudahaan pengusaha. "Balikan untuk bayar tunjangan hari raya (THR)
              buruh saja, boleh dihutang pengusaha kala itu, Menaker-nya Muhaimin Iskandar. Itu artinya,
              buruh terus dikalahkan dan mengalah," bebernya.

              Kemudian, sambung Willy, masuk ke periode kedua Jokowi pada 2019, baru saja dilantik, lagi-
              lagi  dalam  pidato  pertamanya  menyampaikan,  akan  menggabungkan  Undang-undang  untuk
              kemudahan investasi dan ekonomi yang disebut Omnibus Law, hingga lalariah UU Cipta Kerja
              Nomor II Tahun2020.

              "UU  tersebut  sudah  jelas  menghancurleburkan  perjuangan  pahlawan  buruh  yang  sudah
              sejakzaman Belanda memperjuangkan hak dasar hak normatif kaum buruh, yaitu meliputi upah,
              jam kerja, jaminan sosial, perbudakan dan hak normatif lain se-bagainya," beber aktivis buruh
              yang juga masuk daftar 10 tokoh buruh paling vokal versi Indonesia Indicator Tahun2021 ini




                                                           628
   624   625   626   627   628   629   630   631   632   633   634