Page 127 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 127

Sebagai bentuk kepedulian dan bagian dari pemerintah, Menaker berjanji akan meneruskan
              pengaduan tersebut kepada Menteri ATR/Kepala BPN dan Menteri BUMN.

              "Sebagai Menteri dan pribadi, saya turut prihatin pengaduan atas semua yang dialami bapak
              ibu  semua.  Saya  akan  teruskan  kepada  Kementerian  ATR/Kepala  BPN,  kemudian  ke
              Kementerian BUMN," kata Ida Fauziyah dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/7).

              Menurutnya ketika hak-hak petani terganggu, demokrasi menyediakan ruang bagi mereka untuk
              menyuarakan keluh kesahnya. Negara pun punya tanggung jawab untuk menyelesaikannya.
              Selain itu, dia juga meminta agar para petani yang mengadu tetap memperhatikan protokol
              kesehatan, selama memperjuangkan hak-haknya di kota  Jakarta  .

              "Kondisi pandemi, berjuang yes, jaga diri jaga kesehatan juga yes. Mudah-mudahan dua-duanya
              dijaga, maksud tujuan tercapai, bapak ibu tetap sehat," katanya.

              1 dari 1 halaman  Harap Pengaduan Sampai ke Presiden  Dalam kesempatan yang sama, selaku
              Koordinator  26 petani  yang  mengadu  ke  Kemnaker,  Sulaeman  Wardana  yang  mewakili  170
              petani yang masih berjalan kaki menuju Jakarta untuk mencari keadilan. Aksi jalan dilakukan
              karena areal lahan dan tempat tinggal yang telah dikelolanya, sejak tahun 1951 telah digusur
              paksa oleh korporasi plat merah (PTPN II).

              Padahal petani telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984 dan parahnya sebanyak 36
              petani di Sei Mencirim yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).

              "Kami mengadu ke Kemenaker karena 26 petani yang mewakili 170 petani ini juga merupakan
              buruh tani. Harapan kami, pengaduan ini, bisa disampaikan ke Presiden," ujar Sulaeman.

              Diketahui, luas area yang berkonflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan PTPN II
              adalah seluas lebih kurang 854 hektar. Sementara luas area yang berkonflik petani yang STMB
              dengan PTPN II, seluas lebih kurang 850 Ha dan tuntutan petani STMB adalah seluas lebih
              kurang 323,5 hektar.

              Reporter: Tira Santia  Sumber:  Liputan6.com  [idr].


































                                                           126
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132