Page 85 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MARET 2020
P. 85
selama ini masih menjadi modalitas untuk menyatukan perusahaan dengan pekerja.
Jelas sekali bahwa rumusan RUU Ciptaker ini berpotensi mengurangi informal trust
dalam arena pasar tenaga kerja. Padahal, hal ini sangat penting perannya dalam
melengkapi formal trust yang dibangun lewat penegakan aturan ketenagakerjaan
melalui sistem pengawasan ketenagakerjaan.
Dengan kata lain, risiko konflik ketenagakerjaan, laten maupun manifest , di dalam
UU Ciptaker relatif lebih tinggi. Terlebih lagi, rumusan Pasal 45 ayat 2 RUU Ciptaker
menyatakan bahwa pemberi kerja tidak wajib melaksanakan pendidikan dan
pelatihan kerja bagi tenaga kerja Indonesia untuk alih teknologi dan alih keahlian
dari tenaga kerja asing pada jabatan tertentu. Hal ini akan membuat risiko konflik
ketenagakerjaan akibat sentimen emosional kebangsaan menjadi tidak bisa
diabaikan.
Tekanan Global Diakui bahwa pasar tenaga kerja Indonesia menghadapi tekanan
global yang nyata. RUU Ciptaker, di satu sisi merupakan respons atas tekanan
global, dan di lain sisi juga menjadi pemicu guncangan pasar itu. Dalam kisi-kisi
sosial Beckert (2010) telah diingatkan adanya emergence, reproduce, dan change
ketiga elemen pasar, seperti yang sudah diurai di atas. Antisipasi strategik sangat
diperlukan, utamanya dengan akan memudarnya hubungan industrial klasik.
Pertama, perlu dibangun forum kerja sama para pihak di arena pasar tenaga kerja,
melibatkan antara lain pemberi kerja, perusahaan alih daya, pekerja, pemerintah,
asosiasi profesi, komunitas keterampilan, dan akademisi. Forum ini penting sebagai
bagian dari upaya trust investment .
Kedua, perlunya penyesuaian unit kerja Eselon I di Kementerian Ketenagakerjaan
yang berorientasi pada pelayanan dan pembinaan hubungan kerja pola baru, seperti
alih daya, freelance , kemitraan, dan sejenisnya.
Ketiga, perlu dibentuk institusi yang membina labor turnover, yang fungsinya
terintegrasi dengan pelaksanaan jaminan kehilangan pekerjaan.
Keempat, perlunya forum kerja sama antara serikat pekerja, asosiasi profesi, dan
komunitas keterampilan untuk fokus pada pengembangan keterampilan pekerja.
One Herwantoko mahasiswa S3 Departemen Sosiologi FISIP UI dan
Sudarsono Hardjosoekarto Guru Besar FISIP UI
(mmu/mmu)
Page 84 of 117.

