Page 83 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MARET 2020
P. 83

Title          RUU CIPTAKER DAN POTENSI DISRUPSI PASAR TENAGA KERJA
               Media Name     detik.com
               Pub. Date      10 Maret 2020
                              https://news.detik.com/kolom/4932721/ruu-ciptaker-dan-potensi-disrupsi -pasar-tenaga-
               Page/URL
                              kerja
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative
















               Jakarta  -  Revolusi industri 4.0 belum juga sepenuhnya datang, tapi pasar tenaga
               kerja Indonesia sebentar lagi mengalami guncangan disrupsi hebat. Utamanya bila
               seluruh pasal pada BAB IV RUU Ciptaker kelak disahkan menjadi undang-undang.

               Dalam sosiologi ekonomi, krisis pasar, termasuk pasar tenaga kerja, dapat dibedah
               dengan model kisi-kisi sosial (  social grid  ) yang diperkenalkan oleh Jens Beckert
               (2010), yaitu inter-relasi antara institusi, jaringan sosial, dan struktur kognisi para
               aktor pelaku pasar.

               Ranah Institusi  Potensi disrupsi pertama terjadi dalam ranah institusi, khususnya
               regulasi (  institutional rules  ) pasar tenaga kerja yang secara jelas mengamputasi
               sejumlah sarana hubungan industrial klasik, melalui penghapusan Pasal 64, Pasal 66
               ayat 1, dan Pasal 59 UU 13/2003 di dalam RUU Ciptaker. Hal ini telah membuka
               pintu yang sangat lebar untuk alih daya bagi semua lini pekerjaan, baik utama
               maupun penunjang, serta Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) untuk semua
               jenis dan sifat pekerjaan.

               Meluasnya alih daya yang berkonfigurasi dengan PKWT ini kelak menyebabkan
               pembentukan serikat pekerja di perusahaan menjadi lebih sulit. Hal ini akan
               mengakibatkan fungsi Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit dan LKS Tripartit menjadi
               tidak optimal. Dapat diperkirakan bahwa Perjanjian Kerja Bersama (PKB) juga akan
               sulit dibentuk. Persoalan ini menjadi semakin pelik dengan adanya rumusan Pasal 61
               A dalam RUU Ciptaker yang memberikan peluang pelaksanaan PKWT dalam jangka
               waktu yang sangat pendek. Pasal ini berpotensi mendorong pelaksanaan alih daya
               dan PKWT di bawah satu tahun guna menghindari beban kompensasi apabila
               perjanjian kerja berakhir.

               Dari sisi upah, dampaknya jelas sudah dapat dibayangkan. Pasal 90 A mengenai
               upah di atas upah minimum, yang didasarkan atas kesepakatan antara pengusaha
               dan pekerja di perusahaan, menjadi tidak implementatif karena merebaknya status
               alih daya dan PWKT. Selain itu, dengan tidak diwajibkannya penerapan struktur dan
               skala upah sesuai Pasal 92 ayat 2 RUU Ciptaker, maka tingkat upah akan berada
               pada kisaran upah minimum yang kenaikannya tergantung pada pertumbuhan




                                                       Page 82 of 117.
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88