Page 100 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 100

"Dari 25 (orang) yang dilaporkan, ada 19 orang pekerja migran ilegal kami temukan terdiri dari
              16 orang laki-laki dan tiga perempuan," kata Kepala BP2MI Benny Rhamdani di Kantor Bareskrim
              Polri Jakarta, Selasa.

              Penggerebekan dilakukan setelah BP2MI menerima laporan bahwa ada 25 orang ditampung di
              beberapa unit apartemen tersebut.

              Sebanyak 19 pekerja migran Indonesia yang ditemukan itu rencananya akan dibawa ke Thailand
              secara ilegal.

              Belasan pekerja migran itu diketahui direkrut oleh PT Duta Buana Bahari dan PT Nadies Citra
              Mandiri. "Dua perusahaan ini tidak memiliki izin untuk melakukan perekrutan dan penempatan
              pekerja migran," ujar Benny.

              Semua pekerja migran yang direkrut oleh perusahaan yang memiliki izin akan terdeteksi secara
              otomatis dalam sistem basis data di BP2MI.
              Perizinan perekrutan dan penempatan tenaga migran yang dikantongi perusahaan dikeluarkan
              oleh Kementerian Ketenagakerjaan. "Jadi dari 318 P3MI yang terdaftar di sistem kami yang
              memiliki izin dari Kemnaker untuk perekrutan dan penempatan tenaga migran, dua perusahaan
              yang tadi tidak terdaftar," ujar Benny.
              Benny  menyebut  PT  Duta  Buana  Bahari  mengantongi  izin  operasi  dari  Badan  Koordinasi
              Penanaman Modal (BKPM) sebagai lembaga pelatihan kerja (LPK). Sementara PT Nadies Citra
              Mandiri hanya sebagai agensi travel.

              Ke-19 pekerja migran Indonesia yang ditemukan kemudian menjalani  rapid test  dan setelah
              itu mereka dibawa ke Rumah Penampungan Trauma Center (RPTC) milik Kementerian Sosial.

              Benny meminta Satuan Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Bareskrim Polri untuk
              menindak tegas oknum-oknum yang mengirim pekerja migran Indonesia secara ilegal ke luar
              negeri.


              Dia tak ingin kejahatan terhadap pekerja migran terus terjadi.
              "TPPO tentu tidak boleh dilakukan siapa pun, baik perseorangan atau berbadan hukum," tutur
              dia.

              Menurut  dia,  ada  pelarangan  mengirim  pekerja  migran  ke  luar  negeri  pada  masa  pandemi
              COVID-19 sesuai Keputusan Menteri Ketenagakerjaan. Keputusan itu belum dicabut hingga saat
              ini. "Jadi kalau pun perusahaan ini resmi sebagai P3MI, pengiriman yang akan dilakukan tetap
              ilegal dan melawan Kepmen," ujar Benny.





















                                                           99
   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105