Page 102 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JULI 2020
P. 102

Denpasar,  Pimpinan  Cabang  Kesatuan  Mahasiswa  Hindu  Dharma  Indonesia  (PC  KMHDI)
              Denpasar, PC KMHDI Badung, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Denpasar
              gelar audiensi. Penyampaian aspirasi terkait Rancangan Undang-Undang Omnibus Law diterima
              langsung oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali di Ruang Rapat Gabungan, Lantai III Kantor DPRD
              Provinsi Bali, Selasa (21/7).

              TOLAK RUU OMNIBUS LAW, CIPAYUNG PLUS BALI GELAR AUDIENSI DENGAN
              DPRD PROVINSI BALI
              Denpasar,  (Metrobali.com)    Tergabung  dalam  Cipayung  Plus  Bali  diantaranya  Perhimpunan
              Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Denpasar, Gerakan Mahasiswa Kristen
              Indonesia  (GMKI)  Cabang  Denpasar,  Pimpinan  Cabang  Kesatuan  Mahasiswa  Hindu  Dharma
              Indonesia (PC KMHDI) Denpasar, PC KMHDI Badung, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
              (IMM)  Cabang  Denpasar  gelar  audiensi.  Penyampaian  aspirasi  terkait  Rancangan  Undang-
              Undang Omnibus Law diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali di Ruang Rapat
              Gabungan, Lantai III Kantor DPRD Provinsi Bali, Selasa (21/7).

              Pada kesempatan itu, Ketua PC KMHDI Denpasar Putu Asrinidevy menerangkan mahasiswa atau
              masyarakat  merupakan  perwakilan  publik,  yang  juga  harus  dilibatkan  dalam  perancangan
              undang-undang. "RUU Cipta Kerja Omnibus Law hanya akan melanggengkan ketimpangan dan
              konflik  agraria  yang  akan  mengkhianati  amanat  UUD  1945,  UUPA  1960  dan  juga  TAP  MPR
              IX/2001 dengan memperdagangkan sumber-sumber agraria," tambahnya.

              Selanjutnya, Ketua IMM Cabang Denpasar Irfan Maulana Syah Rozat menegaskan pembahasan
              RUU  Omnibus  Law  ini  terkesan  tergesah-gesah  dan  tidak  transparan.  "Pembahasan  RUU
              Omnibus Law ini semakin dikebut dan dirasa tidak memperhatikan etis lingkungan, ada potensi-
              potensi  eksploitasi  sumber  daya  alam  (SDA)  yang  akan  merugikan  masa  depan  bangsa,  ini
              menyangkut kesejahteraan rakyat yang sudah dijamin oleh konstitusi," jelasnya.
              Ketua  GMKI  Cabang  Denpasar  Noberth  I.K  Radadjawa  juga  menyampaikan  masih  banyak
              masyarakat yang merasa dirugikan dengan adanya RUU Omnibus Law. "Tidak terlepas juga
              mengenai perizinan yang diatur dalam RUU Omnibus Law, diantaranya kewenangan pemberian
              izin  pemanfaatan  ruang  yang  langsung  dipegang  oleh  pemerintah  pusat  tanpa  melibatkan
              pemerintah  daerah  sehingga  ini  nantinya  bisa  memicu  konflik  di  tingkat  daerah  dan  juga
              hilangnya IMB, izin lokasi yang dapat membuat investor dengan mudah melanggar amdal dan
              mengeksploitasi SDA yang ada serta mudahnya izin mendatangkan tenaga kerja asing masuk
              ke Indonesia yang membuat tenaga kerja di Indonesia merasa dirugikan," tegasnya.

              Di  kesempatan  yang  sama,  Ketua  PMKRI  Cabang  Denpasar  Robertus  Dicky  Armando
              menyampaikan,  RUU  Cipta  Kerja  ditujukan  untuk  menarik  investasi  dan  memperkuat
              perekonomian  nasional  yang  mendapat  banyak  kritik  dari  berbagai  pihak.  "Hal  tersebut
              dikarenakan  terdapat  beberapa  perbedaan  dengan  UU  No.13  Tahun  2003  tentang
              Ketenagakerjaan,  diantaranya  upah  minimum  Kota/Kabupaten  yang  terancam  hilang  dalam
              pasal 88 C draft RUU; besaran pesangon PHK berkurang; hapus cuti haid bagi perempuan; nasib
              outsourcing semakin tidak jelas; dan pekerja bisa dikontrak seumur hidup", jelasnya.

              Ketua PC KMHDI Badung I Kadek Suwawa Kiki Kesuma Dewa menegaskan ada 4 hal menjadi
              permasalahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja ini. Pertama Aspek Metodologis, Paradigma, dan
              Substansi Pengaturan dari Omnibus Law Cipta kerja masih bermasalah. Kedua RUU ini lebih
              berupaya  menciptakan  iklim  investasi  yang  kondusif  untuk  pembangunan  bukannya
              mengutamakan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Ketiga RUU yang digadang-gadang
              untuk mengatasi overregulated dan overlapping aturan tetapi 500 aturan turunan yang harus
              dibuat untuk melaksanakan RUU ini berpotensi hiperregulated dan menyebabkan pengaturan
              yang kompleks. Keempat RUU ini tidak memperhatikan partisipasi sebagai aspek penting dalam

                                                           101
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107