Page 17 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 JULI 2020
P. 17

menyerahkan keputusan kepada mekanisme forum pengambilan putusan. Sedangkan, Fraksi
              PDI Peijuangan meminta penundaan pembahasan RUU Perlindungan PRT.

              Ia mengatakan, catatan dan sikap fraksi yang disampaikan tersebut akan dilengkapi dengan
              surat  secara  tertulis  sehingga  menjadi  bagian  yang  tidak  terpisahkan  dari  pengambilan  ke-
              putusan. Menurut dia, catatan fraksi tersebut juga akan disampaikan dalam rapat paripurna DPR
              sehingga  menjadi  bahan  tinjauan  bagi  pemerintah  ketika  menyusun  daftar  inventarisasi
              masalah.
              Rancangan UU itu sebenarnya telah diajukan sejak 2004. Sejak itu, RUU masuk dalam Prolegnas
              hingga 2009 dan masuk prioritas Prolegnas pada 2010. Namun, pada masa kerja DPR 2014-
              2019 RUU tersebut tidak dibahas lagi. Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU PPRT yang juga Wakil
              Ketua Baleg \V01y Aditva mengatakan, kehadiran regulasi khusus itu merupakan upaya negara
              dalam melindungi para pekerja rumah tangga.

              "Ini menjadi salah satu manifestasi bagaimana negara hadir bagi entitas yang selama ini tidak
              mendapatkanya, padahal dinamika kehidupan PRT cukup kompleks," kata dia.

              Ia menjelaskan, persoalan PRT dengan segala dinamikanya bukan sekadar relasi antara pekerja
              dan  pemberi kerja  saja.  Menurut dia, perikehidupan  terkait  PRT juga  sering  ditemui  seperti
              penipuan, eksploitasi, bahkan hingga ke level perdagangan orang.

              "Jadi, RUU ini bukan hanya bicara soal upah atau hak PRT dan kewajibannya. RUUini juga bicara
              soal pencegahan atas potensi-potensi penindasan atas diri seorang manusia," ujarnya.

              RUU Perlindungan PRT terdiri atas 12 bab dan 34 pasal. Hal-hal pokok yang diatur di dalamnya,
              antara lain, soal perekrutan PRT, baik secara langsung maupun tidak langsung. "Salah satu spirit
              mendasar dalam RUU ini adalah bahwa perlindungan terhadap PRT dalam relasi sosiokultural,
              bukan hubungan industrialis," ungkap Willy.

              Menurut  dia,  selama  pembahasan  RUU  PPRT,  Panja  telah  mengundang  narasumber  dari
              berbagai pemangku kepentingan, antara lain, para pakar, aktivis buruh, kalangan LSM, sosiolog,
              akademisi, hingga komisioner Komisi Nasionas HAM. Dengan disetujuinya draf RUU itu pada
              Rabu  (1/7),  kata  dia,  maka  tidak  lama  lagi  aturan  itu  akan  disahkan  menjadi  UU.  Proses
              selanjutnya adalah pem-bahasan di tingkat paripurna untuk kemudian diserahkan drafnya pada
              pihak pemerintah. Jika semua telah selesai, untuk pertama kalinya kehidupan profesional PRT
              akan dilindungi oleh UU.  antaraed: ilham tirta


























                                                           16
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22