Page 22 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 JULI 2020
P. 22

Maka terjadilah kontradiksi konsep antara pelatihan upskilling yang mantranya adalah kualitas
              dan link and match dengan bansos yang mantranya kedaruratan (yang umumnya meminggirkan
              kualitas). Perbedaan konseptual ibarat minyak dan air yang tidak mungkin dapat menyatu itu
              juga  berpengaruh  pada  orientasi  peserta  mengikuti  Kartu  Prakerja.  Banyak  peserta  yang
              orientasinya bukan untuk meningkatkan kompetensi, melainkan mendapatkan insentif pasca-
              pelatihan.

              Mekanisme dan teknik pelaksanaan
              Permasalahan mekanisme dan teknik pelaksanaan Kartu Prakerja, di antaranya, pertama, sejak
              awal tidak ada konsep atau ketentuan jenis ski 11 yang boleh/tidak boleh masuk dalam pelatihan
              daring dan tak ada standardisasi kualitas video pelatihan atau kurasi lembaga pelatihan (content
              provider).  Akibatnya,  banyak  jenis  video  pelatihan  yang  kurang  layak  dimasukkan  dan
              kualitasnya lebih buruk dari video gratisan.

              Kedua,  sertifikat  pelatihan  tidak  mengacu  pada  proses  sertifikasi  BNSP  (Badan  Nasional
              Sertifikasi Profesi) sehingga output program diragukan akan diterima dunia kerja.

              Ketiga,  penunjukan  platform  digital  sebagai  mitra  resmi  sesungguhnya  hanya  memberikan
              ruang adanya "pemain tengah" antara pemerintah dan lembaga pelatihan. Kehadirannya bisa
              diabaikan karena hanya membuat teknis pelaksanaan lebih bertele-tele. Fungsi platform digital
              sebagai tempat pelatihan daring juga tidak diperlukan karena www.praker-ja.go.id, situs resmi
              program,  bisa  difungsikan  untuk  itu.  Bagi  peserta  juga  memberi  kerepotan  karena  harus
              mendaftar di www.prakerja.go.id dan ikut pelatihan di platform digital. Padahal, dua hal ini bisa
              dilakukan di satu platform saja.

              Keempat, mekanisme jual-beli antara platform digital dan 5,6 juta peserta program yang dibekali
              dana APBN ma-sing- masing Rp 1 juta jelas-jelas pemborosan anggaran. Mekanisme ini bisa
              menghabiskan  Rp  5,6  triliun.  Padahal,  kalau  pemerintah  berhubungan  langsung  dengan
              penyedia video pelatihan, yakni lembaga pelatihan, anggaran yang diperlukan hanya sekitar Rp
              300 miliar (asumsinya diperlukan 1.500 video pelatihan dan harga per video Rp 200 juta).

              Kelima,  distribusi  biaya pelatihan  kepada peserta  dan  kemudian  peserta  membelanjakannya
              (jual-beli)  di  platform  digital  merupakan  bentuk  komersialisasi  program  pemerintah  yang
              dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah seperti menciptakan
              suatu pasar dengan jutaan konsumen, yakni peserta Kartu Prakerja, yang harus membelanjakan
              uangnya  di  delapan  platform  digital  yang  dipilih  tanpa  melalui  lelang.  Peserta  diperlakukan
              dalam pola hubungan busi-ness to customer, bukan government to people.

              Hal ini tak dapat diterima. Apalagi pola seperti ini mirip praktik transferpricing yang merugikan
              negara dari sisi perpajakan.

              Keenam, peserta yang terdaftar tak seluruhnya pencari kerja, ada juga yang masih bekerja. Hal
              ini kurang tepat karena menutup/mengurangi kuota pencari kerja mendapatkan manfaat dari
              Kartu Prakerja.

              Permasalahan sisi hukum

              Permasalahan  dari  sisi  hukum  adalah,  pertama,  ada  indikasi  konflik  kepentingan  dalam
              penyusunan  Peraturan  Presiden  Nomor  36  Tahun  2020  tentang Pengembangan  Kompetensi
              Kerja melalui Program Kartu Prakerja. Per-pres ini diundangkan pada 28 Februari 2020. Pada
              saat  dirumuskan  dan  diundangkan,  Adamas  Belva  Syah  Deva-ra---CEO  Ruangguru,  induk
              perusahaan Skills Academy, salah satu platform digital mitra resmi Kartu Prakerja---adalah Staf
              Khusus  Presiden.  Skills Academy  saat  ini  menguasai  porsi terbesar,  47  persen  dari  702.974
              transaksi jual beli video (Kompas, 17/6).

                                                           21
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27