Page 19 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 JULI 2020
P. 19

SISTEM JAMINAN MESTI TERINTEGRASI

              Sistem jaminan sosial nasional semestinya terintegrasi dan dirancang untuk sebesar-besarnya
              kepentingan rakyat Indonesia. Hal itu perlu diwujudkan dengan cara yang efisien dan optimal
              sehingga mampu menjangkau semua lapisan masyarakat.

              "Sistem jaminan sosial harus menjadi satu kesatuan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha
              Indonesia (Apindo) Ha-riyadi B Sukamdani, dalam diskusi "Dewas Menyapa Indonesia" yang
              digelar BPJamsos-tek secara daring, Rabu (1/7/2020). Acara itu mengusung dua isu utama,
              yakni terkait penataan rumah rakyat serta relaksasi jaminan sosial tenaga kerja.

              Menurut Hariyadi, Apindo sejak awal mendukung tersusunnya Undang-Undang No 40 Tahun
              2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)- Masalah perumahan sudah diamanatkan
              dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 46/2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari
              Tua (JHT). Selain itu juga dalam PP No 55/2015 tentang Pengelolaan Aset Jaminan Sosial.

              "Intinya,  BPJS  Ketenagakerjaan  dapat  mengalokasikan  30  persen  dari  JHT  untuk  program
              perumahan," ujar Hariyadi.

              Kemudian terbit UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang di beberapa
              pasalnya  mulai  menyebutkan  diperlukan  suatu  penggalangan  dana  untuk  menyediakan
              perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dalam perjalanannya muncul UU
              No 4/2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang mengacu pada UU No 1/2011.

              Menurut Hariyadi, Tapera dari awal mempunyai sumber yang memang berbeda dengan SJSN.
              Walaupun demikian, kalau diurut sampai UUD 1945, bisa saja ketemu dasarnya.

              "Poinnya adalah ketika bicara satu SJSN, situ sebetulnya sudah tercakup semua aturan mainnya,
              lalu muncul Tapera, yang tadinya bertujuan memberikan fasilitas untuk MBR, tentu ini sesuatu
              hal yang berbeda," katanya.
              Saat pembahasan awal, ketika membedah UU Tapera, Apindo melihat bahwa hal seperti ini
              membuat SJSN menjadi tidak terintegrasi.

              Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar berpendapat, hak atas rumah dan hak atas
              jaminan sosial berada pada satu kluster di UUD 1945 Pasal 28 H. "Jadi itu sebenarnya tanggung
              jawab negara untuk menghadirkannya kepada seluruh rakyat," katanya.

              Artinya, seluruh rakyat mempunyai hak. Namun, ada persoalan pada konstruksi di UU Tapera
              dengan peraturan pemerintahnya. "Menurut saya, Tapera bagus, tapi tidak bisa menjawab hak
              konstitusional rakyat," ujar Timboel.

              Deputi Komisioner BP Tapera Ari Eko mengatakan, upaya pemerintah melalui UU No 4/2016 dan
              PP No 25/2020 tentang Penyelenggaraan Tapera--- yang baru dikeluarkan sekitar sebulan lalu-
              --memastikan penataan rumah rakyat menjadi keniscayaan.

              Ada 12 asas pengelolaan Tapera, termasuk kegotongro-yongan, kemanfaatan, dan keadilan.
              Tapera  bertujuan  menghimpun  dan  menyediakan  dana  murah  jangka  panjang  yang
              berkelanjutan untuk pembiayaan perumahan. Hal ini dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah
              yang layak dan terjangkau bagi peserta MBR.

              Visi BP Tapera adalah terwujudnya kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau bagi peserta
              MBR melalui pembiayaan dana murah berkelanjutan berlandaskan gotong ro-yong. "Sumber
              dana Tapera dari tabungan peserta dan juga sumber dana lain," kata Ari Eko.

              (CAS)

                                                           18
   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24