Page 489 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2020
P. 489
Title BEREMPATI DAN BERSIMPATI PADA BURUH SAAT PANDEMI
Media Name jabar.antaranews.com
Pub. Date 01 Mei 2020
https://jabar.antaranews.com/internasional/berita/1457145/berempati-da n-bersimpati-
Page/URL
pada-buruh-saat-pandemi
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Jakarta - Hari-hari ini, potret wajah buruh atau pekerja di Indonesia -- demikian
halnya di tingkat dunia -- hampir tidak ada yang menolak atau membantahnya
adalah suram dan buram.
Dampak pandemi COVID-19 yang memukul hampir semua belahan penjuru bumi di
saat seharusnya pada 1 Mei para buruh merayakan dengan suka cita karena
merayakan Hari Buruh Dunia, pada tahun 2020 ini kondisinya menjadi sangat
berbeda.
Alih-alih bersuka cita -- meski setiap peringatan " May Day " -- selalu tetap
menyuarakan perjuangan peningkatan kesejahteraan di sela-sela aksi
demonstrasinya, kini di saat wabah virus corona jenis baru penyebab COVID-19
masih mendera dan belum menunjukkan gejala mereda, wajah buram itulah yang
mendominasi.
"Dirumahkan", "merumahkan" atau yang lebih lugas seperti pemutusan hubungan
kerja (PHK), adalah kondisi nyata atau fakta keras yang tak bisa dibantah mewarnai
pemberitaan media massa sehari-hari, bahkan pada Hari Buruh Dunia 1 Mei 2020
ini.
Bila PHK maknanya jelas, istilah "dirumahkan" atau "merumahkan" sejatinya adalah
hampir mirip, yakni terminologi "lebih halus" di mana situasi para buruh tidak harus
bekerja namun tanpa mendapat upah, meski ada variannya, yakni masih ada yang
digaji namun jumlahnya diturunkan.
Organisasi Buruh Internasional (ILO), organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) pada awal April lalu dalam laporkan bertajuk "Tanggung jawab
Bersama: Menanggapi Dampak Sosial-Ekonomi dari COVID-19" ( Shared
responsibility: Responding to socio-economic impact of COVID-19 ) yang
diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutkan sekitar 5
hingga 25 juta lapangan kerja di seluruh dunia diperkirakan berhenti sementara.
Kondisi itu menyebabkan pendapatan buruh di tingkatan global senilai 860 miliar
dolar AS sampai 3,4 triliun dolar AS kemungkinan hilang akibat pandemi COVID-19.
Pandemi COVID-19, dalam laporan itu disebutkan membuat sejumlah sektor usaha
terpuruk, di antaranya transportasi, ritel, pariwisata dan hiburan. Tidak hanya itu,
Page 488 of 695.

