Page 18 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JUNI 2020
P. 18

KASUS ABK BERULANG, BP2MI: HARUS ADA REGULASI YANG KUAT

              JAKARTA -- Kepala Badan  Perlindungan Pekerja Migran  Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani
              mengatakan harus ada regulasi yang kuat untuk mencegah kasus Tindak Pidana Perdagangan
              Orang  (TPPO)  terhadap  Anak  Buah  Kapal  (ABK)  Indonesia  di  kapal  perikanan  asing.  Ia
              mengatakan  kasus-kasus  yang  menimpa  ABK  asal  Indonesia  di  Kapal  China  terjadi  karena
              regulasinya tidak kuat.

              Ia menambahkan salah satu regulasi yang dibutuhkan adalah Peraturan Presiden (PP) yang
              mengatur tentang penempatan dan perlindungan pekerja Indonesia pada kapal pelaut niaga
              dan perikanan. BP2MI mengaku sudah mengusulkan PP tentang Penempatan dan Perlindungan
              ABK Pelaut Niaga dan Perikanan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

              "Sebentar lagi diterbitkan. Tinggal tunggu tanda tangan presiden Joko Widodo (Jokowi). Jika PP
              tersebut  terbit  dan  diterapkan  pasti  bisa  meminimalisir  kasus  TPPO  ABK,"  katanya  kepada
              Republika di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat, Selasa (23/6).

              Selain itu, BP2MI berjanji tetap mengawasi perusahaan yang menyalurkan ABK ke luar negeri.
              "Jangan sampai kasus TPPO ini semakin banyak," kata dia.

              Ia juga mengingatkan semua perusahaan agar hati-hati dalam menyalurkan ABK dengan motif
              kejahatan. Sebab, ia memastikan, BP2MI akan membuat perusahaan tersebut diproses secara
              hukum.

              Ia berharap kasus  TPPO ABK  ini diberantas dengan cara menangkap dan memroses hukum
              perusahaan penyalur agar mereka jera. Jika tidak maka akan semakin buruk.

              Selain  itu,  menurutnya,  kasus  TPPO  ABK  harus  diselesaikan  secara  bersama-sama  oleh
              kementerian/lembaga  terkait  di  Indonesia.  Sebab,  perusahaan  penyalur  ABK  tersebut  pasti
              bekerja sama dengan perusahaan luar negeri dengan perjanjian yang tidak diketahui oleh ABK.
              Ia mengaku selama ini bekerja sama dengan kepolisian untuk melindungi para ABK. "Kami sudah
              pasti melindungi ABK tapi harus ada koordinasi juga dari K/L seperti Kemenlu, Polri dan TNI,"
              kata dia.

              Saat ini, BP2MI mengalami kesulitan untuk menyaring ABK yang tidak terdaftar untuk bekerja
              di kapal asing. "Mereka terpengaruh dengan iming-iming perusahaan penyalur dan ikut dengan
              temannya," kata dia.

              Pada kesempatan itu, Benny menerangkan kasus yang menimpa ABK asal Indonesia di kapal
              Long Xing 629. Ia mengatakan aparat penegak hukum sudah tetapkan tiga tersangka.

              Sementara untuk kasus dua ABK WNI Indonesia yang melompat ke laut Selat Malaka dari kapal
              Fu Lu Qing Yuan Yu 901, ia menambahkan, kepolisian masih melakukan penyelidikan. Dua ABK
              itu juga sudah berada di tempat yang aman.

              Ia  menambahkan  lima  orang  temannya  yang  di  kapal  tersebut  sampai  saat  ini  tidak  bisa
              dihubungi. "Lima orang temannya yang di kapal tersebut dalam keadaan aman. Kami peroleh
              informasi dari dua orang temannya yang loncat itu. Kami masih mencari cara untuk hubungi
              mereka. Ya untuk pihak kapalnya ini kan harus bekerja sama dengan kementerian/lembaga
              instansi terkait ya," kata dia.






                                                           17
   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23