Page 22 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JUNI 2020
P. 22
BP2MI hanya mencatat 3,7 juta PMI yang bekerja di luar negeri, sedangkan World Bank
mencatat ada 9 juta PMI. Menurut Benny, 5 jutaan PMI itu berangkat melalui jalur tidak resmi
sehingga tidak terdata.
"Kadang saat PMI disalurkan ke luar negeri, mereka bertemu dengan teman yang lain dan
mereka tergiur dengan ajakan temannya yang ilegal. Sehingga data PMI tersebut hilang dan
tidak terlacak. Lalu, saat teijadi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka baru menyesal. Di sini
kami akan terus mengawasi dan menyelesaikan masalah tersebut," kata dia kepada wartawan
di Gedung Prasadha .Jinarakkhita, Jakarta Barat, Selasa (23/6).
Meski begitu, kata dia, BP2MI tetap akan memberikan perlindungan kepada mereka dengan
memberantas oknum yang memiliki modus kejahatan. BP2MI akan bertindak bersama instansi
terkait jika menemukan oknum tersebut
Kemarin, BP2MI telah menggandeng Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) untuk mengadakan
pelatihan dan melindungi PMI. Sebab, sampai saat ini masih banyak PMI yang mendapatkan
perlakuan tidak baik di luar negeri. "Kami menjalin silaturahim dan bekerja sama dengan MBI
untuk melindungi PMI bersama. Nantinya MBI bisa memberikan pelatihan kepada PMI sehingga
PMI menguasai semua kemampuan. Selain itu, tentunya kami akan memberantas oknum yang
memiliki modus tertentu dan menipu para PMI," kata Benny.
Sementara, Ketua Umum MBI Amin Untariyo juga mengakui, memang banyak sekali PMI yang
mendapatkan perlakuan tidak baik di luar negeri. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah
kemampuan PMI yang terbatas sehingga mereka tidak dihargai dan menimbulkan permasalahan
pada PMI sendiri.
Ia mencontohkan di Singapura, ia pernah bertemu dengan PMI yang menceritakan suka dan
duka bekerja di Singapura. PMI tersebut pernah tidak mendapatkan gajinya selama tiga bulan
karena diambil agen yang menyalurkannya.
Tidak hanya itu, saat di Hong Kong, terdapat PMI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga
(ART). Ia berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ia memasak nasi, rice cooker -nya
ditaruh di kompor. Kompornya hancur dan majikannya marah sehingga PMI ini mendapatkan
perlakuan tidak baik.
"Ini teijadi karena mereka tidak dilatih saat disalurkan ke luar negeri. Jadinya, mereka tidak
dihargai. Semoga dengan kerja sama ini kami bisa membantu dan mengajari mereka. Sehingga
PMI tidak lagi dilecehkan ataupun disakiti oleh pihak-pihak yang mempekerjakannya," kata dia.
Pengelolaan bermasalah
Pada Senin, (22/6), sebanyak 450 WNI tahanan Depo Imigrasi Malaysia dideportasi ke tanah air
dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Sekretaris I Konsuler KBRI Kuala Lu n v pur
Dahlia Kusuma Dewi mengatakan, deportasi ini erat kaitan nya dengan permasalahan
pendatang asing tanpa izin (PATI) di Malaysia. Karena itu, pihaknya mengharapkan ada
perbaikan dalam tata kelola penempatan (PMI) tersebut.
Tentunya upaya ini tidak lepas dari iktikad baik kedua negara (Malaysia dan Indonesia) untuk
terus meningkatkan komitmen bersama secara positif, khususnya dalam keija sama di bidang
ketenagakerjaan," katanya pada Senin.
Dahlia mengatakan, 450 deportan tersebut telah menjalani uji PCR dan dinyatakan bebas Covid-
19. Sebanyak 148 orang bertujuan Jakarta, sebanyak 154 orang menuju Medan, dan 154 orang
menuju Surabaya. Setiap kelompok tujuan didampingi oleh dua orang dari Imigrasi Malaysia.
antara ed: Ilham tirta
21

