Page 25 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JUNI 2020
P. 25
PEKERJA ASING
Tenaga Kerja Asing di Sultra Dievaluasi Total
KENDARI, KOMPAS — Sebanyak 156 pekerja asal China yang datang ke Sulawesi Tenggara
pada tahap pertama tercatat memakai visa kerja. Persoalan tenaga kerja di dua perusahaan
yang menggunakan pekerja asing tersebut akan dievaluasi total mengingat masalah yang
muncul. Sementara itu, gelombang penolakan terhadap kedatangan pekerja asal China terus
teijadi.
Ketua DPRD Sultra Abdul Rahman Saleh menyampaikan, visa keija yang dipakai oleh 156 orang
itu tetap akan dievaluasi. Audit keahlian, mulai dari sertifikasi hingga uji petik lapangan, akan
dilakukan untuk memastikan keahlian mereka.
"Karena kita punya pengalaman 49 T KA (tenaga kerja asing) China yang datang Maret lalu di
PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) itu memakai
visa kunjungan awalnya. Baru ketika tiba mereka memakai visa 312, yaitu tenaga ahli. Tetapi,
saya dapat info lagi, ada yang bukan tenaga ahli, tetapi helper atau kerja-kerja biasa,” tutur
Rahman saat inspeksi mendadak di Bandara Haluoleo, Kendari, Selasa (23/6/2020) malam.
Dengan memakai visa kunjungan, menurut Rahman, ada begitu banyak kerugian negara. Para
pekerja tidak membayar dana kompensasi penggunaan TKA sebesar 100 dollar AS per orang
setiap bulan. Selain itu, ada potongan Pajak Penghasilan hilang sebesar 20 persen setiap orang.
”Bisa dibayangkan kalau 1.000 pekerja datang, tapi hanya pakai visa kunjungan. Dengan gaji
rata-rata 1.500 dollar AS per orang, satu bulan potensi Rp 9 miliar hilang. Di satu sisi, pekerja
yang tidak pakai visa kerja itu pidana 5 tahun dan denda Rp 500 juta,” kata Rahman.
Oleh karena itu, DPRD Sultra akan membentuk tim terpadu untuk mengevaluasi total
permasalahan TKA di PT VDNI dan PT OSS. Selain visa TKA, juga akan ada evaluasi tenaga
kerja lokal yang tidak seimbang.
”Kami hanya minta agar perusahaan mengikuti aturan yang berlaku. Kalau nanti evaluasi ada
visa yang tidak sesuai, kami minta agar pekerja tersebut segera dideportasi,” ujarnya.
Kepala Kantor Imigrasi Kendari Hajar Aswad menjabarkan, tembusan surat kedatangan 156
pekerja itu menunjukkan mereka datang menggunakan visa keija, yaitu visa 312. Visa itu
digunakan pekerja asing tenaga ahli.
"Pemeriksaan paspor di Manado. Untuk penerbitan izin tinggal terbatas, itu baru bisa dilakukan
setelah mereka isolasi mandiri di perusahaan,” katanya.
Hingga pukul 19.30 Wita, pekerja asal China belum tiba di Sultra. Mereka masih diperiksa
dokumennya di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Mereka terbang dari Guangzhou, transit di
Malaysia, lalu ke Manado sebelum ke Sultra.
Sebanyak 500 pekerja asal China diajukan PT VDNI dan PT OSS sejak April lalu. Pemerintah
menyetujui dan dijadwalkan datang akhir April. Namun, karena desakan masyarakat yang dalam
situasi pandemi Covid-19, Pemprov Sultra bersama DPRD Sultra meminta kedatangan para
pekerja itu ditunda.
Belakangan, Pemprov Sultra membolehkan kedatangan pekerja karena dianggap memenuhi
syarat dan diizinkan pemerintah pusat. Ketua DPRD Sultra Abdul Rahman Saleh juga
membolehkan dengan sejumlah syarat dan evaluasi.
24

