Page 128 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 128

KEBIJAKAN PEMPROV SULTRA MENGIZINKAN MASUKNYA 500 TKA CHINA MULAI
              DISOAL

              KENDARI,   - Kebijakan Pemprov  Sultra  yang mengizinkan masuknya 500 TKA China di tengah
              Pandemi Covid-19 di Bumi Anoa mulai menuai kecaman dan protes. Kritikan tajam salah satunya
              datang dari Wakil Ketua DPRD  Sultra  , Muhamad Endang.

              Ketua DPD Partai Demokrat Sultra ini menyebut Pemprov Sultra tidak memegang komitmennya.
              Bahkan  melalui  rapat  koordinasi  yang  dihadiri  para  Forkopimda,  Gubernur  Sultra,  Ali  Mazi
              akhirnya memberikan lampu hijau untuk para TKA.

              "Saya kira sebelumnya Gubernur sudah bilang bahwa ratusan TKA China tersebut belum bisa
              datang sampai pandemi Covid-19 selesai. Masyarakat juga tahu itu dan saat ini wabah tersebut
              masih  menyebar.  Berarti  dia  tidak  komitmen  dengan  pernyataannya.  Kenapa  tiba-tiba
              melakukan rapat kordinasi dan memutuskan kedatangan mereka, ada apa?," tegas Muhamad
              Endang saat dihubungi Sabtu (13/06/2020).

              Ia berharap pemerintah benar-benar peduli dengan kondisi kebatinan masyarakat yang sedang
              melindungi diri dari paparan Covid-19. Terkait rencana kedatangan pekerja asing, ia berharap
              pemerintah bisa transparan dalam perekrutan 500 TKA tersebut.

              "Rekruitmen TKA tersebut harus transparan, apakah benar-benar punya skill lebih atau sama
              saja dengan tenaga kerja lokal. Kalau mereka tidak mau transparan, sekalian saja kasih datang
              satu kali 500 itu, tidak perlu dibagi beberapa tahap," ujarnya.

              Sementara  itu,  Presiden  Mahasiswa  Unsultra,  Adi  Maliano,  yang  mengikuti  rapat  koordinasi
              mengatakan, Pemprov Sultra tidak mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19.

              "Kemarin mereka bilang satu TKA China itu akan merekrut lima orang tenaga lokal. Positifnya
              begitu memang tapi sesuai janji Pak Gubernur dulu, harus selesai dulu ini pandemi. Jangan
              sampai justru bertambah lagi, dipikirkan juga dampak terburuknya," kata Adi Maliano.

              Ia pun menentang keras kedatangan 500 TKA ke Morosi dan berharap pemerintah focus untuk
              pencegahan penyebaran Covid-19.

              "Mereka ini harus benar-benar dipastikan dulu, apakah tenaga ahli atau buruh biasa. Sebaiknya
              pemerintah fokus dulu urus pencegahan penyebaran Covid-19. Kasian tenaga medis, orang-
              orang  di  Sultra  saja  susah  keluar  masuk  daerahnya  orang,  kenapa  orang  China  diizinkan,"
              katanya.

              Untuk diketahui, sebelumnya kedatangan 500 TKA asal negeri Tirai Bambu tersebut ditolak oleh
              seluruh  Fraksi  DPRD  Sultra  saat  rapat  paripurna  Rabu  (29/04/2020)  lalu.  Tidak  hanya  itu,
              keseriusan DPRD Sultra ini dibuktikan dengan melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo
              tertanggal 30 April 2020.

              Mereka  menginginkan  penundaan  tersebut  dilakukan  sampai  pandemi  Covid-19  dinyatakan
              bersih  oleh  pemerintah.  Selain  itu,  dilakukan  audit terhadap perusahaan  penerima  TKA  dan
              transparansi  terkait  kebutuhan  tenaga  kerja.  (A)    Reporter:  Herlis  Omputo  Sangia    Editor:
              Wulan.










                                                           127
   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133