Page 131 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 131

"Jadi model one to many pelayanan klaim BPJS ketenagakerjaan itu hanya mempercepat proses
              pelayanan dari pengajuan klaim JHT yang telah terdaftar, bukan mengakomodasi peserta yang
              masih kesulitan akibat tertolak mendaftar klaimnya sebab ada pembatasan kuota pelayanan
              klaim online di sektor hulu yang selalu penuh. Pembatasan kuota pendaftaran pelayanan klaim
              BPJS  Ketenagakerjaan  harus  dicabut  alias  non  kuota,  biarkan  sesuai  faktanya,"  kata  Hery
              Susanto.

              Hery Susanto menilai model pelayanan one to many BPJS Ketenagakerjaan masih bersifat pilot
              proyek dan tidak berlaku massif di semua cabang/wilayah, khususnya basis pekerja.

              Selain itu, pelayanan klaim JHT kolektif oleh pihak perusahaan yang berkoordinasi dengan BPJS
              Ketenagakerjaan  itu  sudah  salah  urus  dan  bentuk  lepas  tanggungjawab  direksi  BPJS
              Ketenagakerjaan terhadap pelayanan kepada peserta. Itu tidak sesuai amanah UU SJSN dan UU
              BPJS.

              Perusahaan  sebagai  pemberi  kerja  itu  hanya  berwenang  untuk  update  pekerjanya  guna
              didaftarkan sebagai peserta dan membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan.

              "Pelayanan  klaim  itu  kewenangan  BPJS  Ketenagakerjaan.  Urusan  pengajuan  klaim  itu  hak
              pekerja sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, bukan otoritas perusahaan. Perusahaan cukup
              terbitkan surat parklaring/pengalaman kerja pekerja saja tidak lebih dari itu," pungkasnya..






















































                                                           130
   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136