Page 497 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 497

Ia mengatakan usulan ini agar dapat memenuhi asas keadilan dan hubungan industrial yang
              harmonis, sehingga kesejahteraan pekerja atau buruh dapat terwujud. Surat usulan peninjauan
              kembali formula penetapan UMP ini ditulis Anies pada 22 November 2021. Dalam surat itu, Anies
              menjelaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharuskan untuk menerapkan penghitungan UMP
              sama  persis  atau  sesuai  dengan  formula  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021yang
              dituangkan  kembali  menjadi  Keputusan  Gubernur  Nomor  1395  tahun  2021  tentang  Upah
              Minimum Provinsi Tahun 2022.

              Kemudian, Pemprov DKI diharuskan untuk menetapkan/mengumumkan sebelum 21 November
              2021. Keputusan Gubernur itu, lanjut dia, dibuat semata-mata agar tidak melanggar ketentuan
              di atas.

              "Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melihat ada ketidaksesuaian dan tidak terpenuhinya
              rasa  keadilan  antara  formula  penetapan  UMP  dari  Kementerian  Ketenagakerjaan  Republik
              Indonesia dengan kondisi senyatanya di lapangan," katanya.

              Berdasarkan formula dari Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021, kenaikan UMP di DKI
              Jakarta tahun 2022 hanya sebesar Rp37.749 atau 0,85 persen menjadi Rp4.453.935 per bulan.
              Kenaikan yang hanya sebesar Rp38 ribu itu dirasa amat jauh dari layak dan tidak memenuhi
              asas keadilan, mengingat peningkatan kebutuhan hidup pekerja atau buruh terlihat dari inflasi
              di DKI Jakarta yaitu sebesar 1,14 persen.

              Sebagai informasi, dalam kurun waktu enam tahun terakhir rata-rata kenaikan UMP DKI Jakarta
              adalah sebesar 8,6 persen yakni pada 2016 sebesar 14,8 persen, kemudian pada 2017 sebesar
              8,2 persen, 2018 sebesar 8,7 persen, 2019 sebesar 8 persen, 2020 mencapai 8,5 persen dan
              2021 sebesar 3,2 persen.

              Selain itu, lanjut dia, terdapat dinamika pertumbuhan ekonomi yang tidak semua sektor lapangan
              usaha  pada  masa  pandemi  COVID-19  mengalami  penurunan.  Sebagian  sektor  bahkan
              mengalami  peningkatan  misalnya  sektor  transportasi  dan  pergudangan,  informasi  dan
              komunikasi,  jasa  keuangan,  jasa  kesehatan  dan  kegiatan  sosial  berdasarkan  data  BPS  DKI
              Jakarta Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2021.

              Sedangkan,  kata  Anies,  Provinsi  DKI  Jakarta  merupakan  satu-satunya  provinsi  yang  tidak
              memiliki Upah Minimum Kabupaten/Kota sehingga Upah Minimum Provinsi menjadi ketetapan
              final yang berlaku di semua wilayah kota/kabupaten.
              "Sementara  belum  ada formula  penetapan  UMP  yang  baru,  Pemerintah  Provinsi  DKI  Jakarta
              sedang melakukan kaji ulang penghitungan UMP 2022 dan pembahasan kembali dengan semua
              stakeholder untuk menyempurnakan dan merevisi Keputusan Gubernur dimaksud agar prinsip
              keadilan bisa dirasakan," tulis Anies.

              Surat Anies Baswedan ini beredar menjelang demo buruh yang akan digelar di depan Balai Kota
              DKI pada Senin, 29 November 2021 siang ini. Buruh menuntut Anies mencabut keputusan soal
              penetapan UMP DKI 2022.














                                                           496
   492   493   494   495   496   497   498   499   500   501   502