Page 506 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 506

Ringkasan

              Pengusaha tak mempermasalahkan massa buruh akan terus melakukan unjuk rasa menuntut
              kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2022 naik 5%. Namun, para buruh diharapkan dapat
              memahami situasi yang sedang berlangsung saat ini, yakni pandemi COVID-19.

              Wakil Ketua Umum Kadin bidang Ketenagakerjaan Adi Mahfudz menjelaskan bahwa pengusaha
              masih terkena dampak merebaknya virus Corona, walaupun sudah terjadi pemulihan namun
              masih berjalan lambat.



              BURUH DEMO BERJILID-JILID TUNTUT UMP NAIK 5%, PENGUSAHA: HARUS TAHU
              DIRI!

              Pengusaha tak mempermasalahkan massa buruh akan terus melakukan unjuk rasa menuntut
              kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2022 naik 5%. Namun, para buruh diharapkan dapat
              memahami situasi yang sedang berlangsung saat ini, yakni pandemi COVID-19.

              Wakil Ketua Umum Kadin bidang Ketenagakerjaan Adi Mahfudz menjelaskan bahwa pengusaha
              masih terkena dampak merebaknya virus Corona, walaupun sudah terjadi pemulihan namun
              masih berjalan lambat.

              "Adapun  tuntutan  buruh  yang  terus-menerus,  kepada  buruh,  saya  kira  yang  pertama  tidak
              semuanya  buruk  menyampaikan  aspirasi  yang  sama.  Yang  kedua  normatif  dan  wajar  saja
              menyampaikan hak konstitusionalnya dalam hal ini untuk bersuara hal tersebut," katanya kepada
              detikcom, Senin (29/11/2021).

              "Terus yang ketiga kami di dunia pengusaha, tentu juga tidak merasa terganggu -tanda kutip-
              bahwa keberlangsungan usaha dan pekerja dan buruh untuk terus bekerja itu saya kira harus
              terus kita pelihara bersama, artinya harus kita lakukan bersama," sambungnya.

              Mengenai tuntutan agar upah minimum naik 5%, menurutnya perlu diketahui bersama pandemi
              COVID-19  memberikan  dampak  yang  signifikan  dalam  dua  tahun  terakhir.  Dia  menjelaskan
              bahwa pengusaha pontang-panting menghadapi kondisi tersebut.

              "Kami bisa mempertahankan dan sesuai rekomendasi pemerintah untuk tidak mem-PHK saja itu
              sudah sangat luar biasa. Jadi kami sebetulnya tidak semata-mata terlalu membicarakan hal-hal
              yang  sekiranya  terkait  dengan  kenaikan  (upah  minimum)  dan  kenaikan  terus,  bukan  itu
              masalahnya," paparnya.

              Yang jadi masalah, lanjut dia adalah keberlangsungan usaha para pengusaha. Harus dipahami
              seperti  apa  kemampuan  perusahaan.  Bagi  perusahaan  yang  mampu  tentu  didorong  untuk
              menaikkan upah minimum 2022 di atas persentase yang sudah ditetapkan oleh gubernur.

              "Makanya sekali lagi jika upah menuntut terus dan menuntut katakanlah 5% segala macamnya
              kami  sebetulnya  bukan  mempersoalkan  itu,  tetapi  yang  persoalan  kami  nanti  jika
              diimplementasikan di Januari 2022 itu mampu nggak ya? pengusaha itu mampu nggak ya? dunia
              usaha, dunia industri itu bagus nggak ya? growth nggak ya? semakin bertumbuh nggak ya?,"
              ujar Adi.

              "Nah  kita  juga  harus  tahu  diri  menyikapi  itu,  saat  ini  perubahan  perilaku  baik  terutama
              kesehatan,  ekonomi  maupun  sosial  kita  kan  jauh  sangat  berubah  akibat  dampak  pandemi
              COVID-19 ini," sambungnya.

              Lanjut halaman berikutnya.

                                                           505
   501   502   503   504   505   506   507   508   509   510   511