Page 539 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 539

dampaknya hanya dari satu indikator statistik tanpa melihat fenomenal sosial di lapangan, bisa
              cukup menyesatkan.
              Siregar (2019) dalam penelitiannya memaparkan bahwa hukum tentang UM hanya berlaku bagi
              para  pekerja  yang  dikelola  'pengusaha'  (karyawan  gaji  tetap)  dengan  masa  kerja  di  bawah
              setahun. Faktanya, sebagian besar pekerja di Indonesia bukan merupakan karyawan gaji tetap,
              sehingga upah berdasarkan UM tidak berlaku bagi para pekerja tersebut.

              Sementara itu, mereka yang masuk dalam kelompok karyawan gaji tetap juga tidak semuanya
              diupah sesuai UM. Laporan Asian Development Bank (ADB) tahun 2016 menyebutkan bahwa
              persentase karyawan gaji tetap yang menerima upah di bawah UM telah naik dari 21 persen
              pada tahun 2001, menjadi 47 persen di tahun 2015. Jika kita hanya melihat para pekerja di
              sektor informal, angka ini bahkan lebih tinggi.

              Melihat  berbagai  data  di  atas,  menjadikan  Indeks  Kaitz  sebagai  satu-satunya  indikator  soal
              pengupahan  Indonesia  jelas  kurang  bijaksana.  Interpretasi  Indeks  Kaitz  semata  tanpa
              didampingi data fenomena sosial bisa mendorong kebijakan yang kurang tepat dan bisa jadi
              malah menurunkan kesejahteraan pekerja.

              Perkara Indeks Kaitz yang tinggi (jika itu yang dianggap akar masalah), bisa diselesaikan dengan
              meningkatkan UM terendah dan menjaga UM yang sudah tinggi agar tidak makin tinggi. Dengan
              mengurangi kesenjangan antara keduanya, Indeks Kaitz kita akan bisa lebih proporsional. Tapi
              isu utama dalam hal ini bukanlah angka indeks, melainkan UM itu sendiri.

              Melindungi Dua Pihak

              UM pada dasarnya merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk melindungi pekerja agar tidak
              dibayar terlalu murah, dan melindungi pengusaha agar daya saing tetap terjaga. UM tidak sama
              dengan upah aktual atau upah efektif. UM adalah batas bawah dari upah yang bisa diberikan
              pengusaha pada para pekerja dengan masa kerja di bawah satu tahun.
              Namun ada juga kelompok pekerja yang dikecualikan dari penghitungan UM, yakni mereka yang
              merupakan pekerja pada usaha mikro kecil. Kelompok pekerja ini wajib diupah minimal 50 persen
              dari rata-rata konsumsi masyarakat di tingkat provinsi, dan paling sedikit 25 persen di atas garis
              kemiskinan tingkat provinsi.
              Terkait rendahnya UM di beberapa wilayah, sebenarnya sudah dicakup dalam PP 36 tahun 2021
              tentang dasar penghitungan UM. PP ini disusun dengan prinsip memacu laju pertumbuhan UM
              yang  terlampau  rendah  dan  menahan  laju  pertumbuhan  UM  di  wilayah-wilayah  capaiannya
              sudah tinggi. Tentu perlu diapresiasi jika PP ini betul-betul diimplementasikan untuk mengurangi
              kesenjangan upah. Namun permasalahan upah negara kita bukan itu saja.

              Masalah  lain  yang  juga  penting  adalah  bagaimana  agar  upah  efektif  yang  diberikan  kepada
              pekerja tidak lagi hanya sekedar mengikuti UM. Upah efektif diamanatkan lebih besar dari UM
              dimana  besarannya  dapat  ditentukan  ruang  diskusi  bipartite  antara  pekerja  dan  pengusaha.
              Sayangnya, dalam rilis Apindo, ruang diskusi ini digambarkan sangat kecil dengan alasan UM
              sudah terlampau tinggi.


              Hal  ini  sangat  terkait  dengan  fenomena  dimana  serikat  pekerja  Indonesia  terus  menerus
              menuntut kenaikan UM. Menurut penelitian Siregar (2019) salah satu alasan yang mendasari
              aktivitas  serikat  pekerja  ini  adalah  karena  minimnya  ruang  negosiasi  antara  pekerja  dan
              pengusaha terkait kenaikan upah. Sehingga salah satu usaha yang bisa dilakukan para pekerja
              untuk mendorong kenaikan upah adalah dengan menuntut kenaikan UM tiap tahunnya.




                                                           538
   534   535   536   537   538   539   540   541   542   543   544