Page 62 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 JANUARI 2020
P. 62
Title APINDO: OMNIBUS LAW DONGKRAK PERTUMBUHAN EKONOMI CAPAI 6 PERSEN
Media Name antaranews.com
Pub. Date 23 Januari 2020
https://www.antaranews.com/berita/1263011/apindo-omnibus-law-dongkrak-
Page/URL
pertumbuhan-ekonomi-capai-6-persen
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Sektor UKM diperkirakan mengalami transformasi besar-besaran dan menyerap banyak
tenaga kerja, Jakarta - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi
Sukamdani menilai penerapan Omnibus Law dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia hingga mencapai 6 persen.
"Saya yakin kalau efektif satu tahun sejak diundangkan, pertumbuhan ekonomi kita
akan lebih dari 6 persen. Yakin. Karena itu yang selama ini 'engine' pertumbuhan kita
berat banget, semua yang tadinya tidak produktif, menjadi produktif," kata Hariyadi di
Jakarta, Kamis.
Hariyadi menjelaskan bahwa usaha kecil dan menengah (UKM) dan industri manufaktur
menjadi sektor yang diprediksi tumbuh signifikan dengan penerapan Omnibus Law.
Menurut dia, Omnibus Law yang tengah dimatangkan pemerintah ini tidak hanya
membuka akses investasi ke dalam negeri saja, tetapi juga akan menciptakan lapangan
pekerjaan. Sektor UKM diperkirakan mengalami transformasi besar-besaran dan
menyerap banyak tenaga kerja.
Selain pada UKM, angkatan kerja Indonesia yang saat ini jumlahnya sekitar 130 juta
orang, akan banyak terserap pada industri manufaktur. Industri ini diprediksi bahkan
memberikan kontribusi hingga 30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
Nasional.
"Sekarang itu indeks manufaktur kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar
24 persen. Kalo itu (Omnibus Law) terjadi, bisa lebih dari itu. Saya rasa bisa ke 30
persen mungkin," ujar dia.
Hariyadi menambahkan bahwa industri manufaktur akan mengalami konversi di mana
perusahaan besar tidak lagi menjadi pemain utama dalam industri ini, melainkan UKM.
Sebagian besar proses produksi barang akan dikerjakan oleh UKM, sementara
perusahaan manufaktur akan lebih fokus ada sistem manajemen dan pemasaran, serta
berperan sebagai "offtaker".
"Ini sudah mulai terjadi. Pemainnya adalah usaha UKM, yang tadinya mereka pemain
besar bidang ini, mereka akan lebih kepada menjaga kualitas dan mengambil barang
offtaker, tetapi udah tidak mau pegang produksinya lagi," jelas Hariyadi.
Pewarta: Mentari Dwi Gayati Editor: Hendra Agusta COPYRIGHT (c)2020 .
Page 61 of 62.

