Page 137 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 137

ICW UNGKAP 6 DUGAAN MALADMINISTRASI KARTU PRAKERJA YANG HABISKAN
              ANGGARAN 20 TRILIUN

              Ilustrasi Kartu Prakerja. (Warta Kota)  Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan
              maladministrasi  program  Kartu  Prakerja  ke  Ombudsman  RI.  Terdapat  sejumlah  potensi
              pelanggaran dalam program Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu.

              "Kami  menduga  ada  setidaknya  enam  pelanggaran  dugaan  maladministrasi  dalam  Kartu
              Prakerja," ujar peneliti ICW Wana Alamsyah dalam keterangan resminya diterima Kamis, (2/7).

              Dugaan pelanggaran itu yakni pemilihan platform digital yang tidak sesuai dengan Peraturan
              Menteri Koordinator Bidang Perekonomian  3/2020  .

              Wana menyebut perjanjian kerja sama antara manajemen pelaksana dengan platform digital
              dilakukan pada 20 Maret 2020. Sementara Permenko  3/2020  yang mengatur teknis perjanjian
              kerja sama baru terbit pada 27 Maret 2020.


              "Patut diduga perjanjian kerja sama itu bentuk maladministrasi karena dasar hukum teknis yang
              mengatur perjanjian kerja sama belum ada," katanya.

              Dugaan  pelanggaran  selanjutnya  adalah  pemilihan  platform  digital  yang  tak  menggunakan
              mekanisme  lelang  pengadaan  barang  dan  jasa.  Menurut  Wana,  pemerintah  beralasan
              penunjukkan langsung delapan platform digital diperbolehkan karena ada keterbatasan waktu
              dan uji coba program.

              Padahal dalam Peraturan Presiden  16/2018  tentang Pengadaan Barang dan Jasa, menjelaskan
              bahwa  pengadaan  merupakan  kegiatan  pengadaan  barang  dan  jasa  yang  menggunakan
              APBN/APBN mulai dari identifikasi kebutuhan hingga serah terima hasil pekerjaan.

              "Sehingga mekanisme pemilihan platform digital sudah seharusnya menggunakan skema yang
              diatur dalam Perpres, tapi pemerintah tidak menggunakan mekanisme tersebut," ujar Wana.

              Pemerintah juga diduga maladministrasi lantaran proses kurasi platform digital yang tidak layak.
              Sesuai  Permenko  Perekonomian,  jangka  waktu  yang  dibutuhkan  manajemen  pelaksana  dan
              platform digital untuk melakukan kurasi paling lama 21 hari sampai bisa ditetapkan sebagai
              lembaga pelatihan.

              Namun faktanya, kata Wana, proses pendaftaran sampai penutupan hanya berjarak lima hari.

              "Ada gap waktu antara manajemen pelaksana dengan platform digital tidak melakukan kurasi
              dengan baik," tuturnya.

              Selain itu, dugaan pelanggaran terjadi dalam penempatan program Kartu Prakerja yang tidak
              sesuai  dengan  kewenangan  Kemenko  Perekonomian.  Menurut  Wana,  pengelolaan  Kartu
              Prakerja semestinya menjadi kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan.

              "Dengan  menempatkan  Kemenko  Perekonomian  sebagai  pelaksana  teknis  program  Kartu
              Prakerja, timbul konflik internal karena fungsi pengawasan dan pelaksanaannya menyatu di satu
              kementerian," katanya.
              Dugaan  pelanggaran  lain,  lanjut  Wana,  adalah  pemilihan  platform  digital  yang  tidak  sesuai
              prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah. Wana mengatakan pemerintah tak memberikan
              informasi  kepada  masyarakat  mengenai  kesempatan  untuk  menjadi  mitra  program  Kartu
              Prakerja.

                                                           136
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142