Page 146 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 146

6 KEJANGGALAN KARTU PRAKERJA YANG BIKIN ICW LAPOR OMBUDSMAN

              , JAKARTA  - Indonesia Corruption Watch (ICW) setidaknya menemukan enam kejanggalan dari
              pelaksanaan  program Kartu Prakerja  .

              Atas  temuannya  itu,    ICW    mendesak    Ombudsman  RI    untuk  mengeluarkan  rekomendasi
              pemberhentian program Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut.

              "ICW  menuntut  agar    Ombudsman  RI    melakukan  pemeriksaan  terhadap  adanya  dugaan
              maladministrasi  pada  Program  Kartu  Prakerja  dan  mengeluarkan  rekomendasi  untuk
              menghentikan  Program  Kartu  Prakerja,  karena  indikasi  maladministrasi  sejak  dalam  proses
              perencanaan," kata Peneliti  ICW  Wanna Alamsyah dalam keterangannya, Kamis (2/7/2020).

              ICW pun telah melaporkan enam dugaan maladministrasi ke Ombudsman pada hari ini.

              Dalam  laporannya,  setidaknya  terdapat  enam  landasan  program  tersebut  harus  dihentikan
              terlebih dahulu oleh pemerintah, yaitu:   Pertama, penempatan Program Kartu Prakerja dinilai
              tidak sesuai dengan tugas, pokok, fungsi yang selama ini diemban oleh Kementerian Koordinator
              Bidang Perekonomian.

              ICW menilai, idealnya program itu diampu oleh Kementerian Ketenagakerjaan lantaran sesuai
              dengan tugas pokok dan ranah kewenanganannya.

              ICW juga menilai potensi konflik kepentingan dapat timbul lantaran menempatkan Kemenko
              Perekonomian sebagai pelaksana teknis  program Kartu Prakerja  .

              "Karena fungsi pengawasan dan fungsi pelaksanaan teknis menyatu pada satu Kementerian.
              Sehingga, ini dipandang sebagai maladministrasi karena melampaui wewenang sesuai dengan
              Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008," papar Wanna.

              Kedua,  mekanisme  kurasi  lembaga  pelatihan  dianggap  tidak  layak  dan  mengandung  konflik
              kepentingan.

              Argumen  ini  dilandaskan  lantaran  platform  digital  dan  manajemen  pelaksana  menjalankan
              kurasi kurang dari 21 hari sebagaimana aturan yang tertera dalam Pasal 27 Permenko Nomor 3
              Tahun 2020.

              Hal ini diyakini dalam proses kurasi pada gelombang I Program Kartu Prakerja, yang menutup
              proses pendaftaran hanya dalam waktu lima hari sejak dibuka pada April lalu.

              "Tentu waktu ini dipandang tidak cukup untuk menghasilkan lembaga pelatihan yang benar-
              benar  teruji  dan  profesional.  Bahkan  dapat  berpotensi  merusak  kualitas  pelatihan  yang
              sebelumnya dijanjikan akan diberikan," ujar Wanna.

              Ketiga,  perjanjian  kerjasama  antara  manajemen  pelaksana  dengan  platform  digital  diduga
              dilakukan sebelum terbitnya Permenko Nomor 3 Tahun 2020.

              Dia meyakini hal ini lantaran Manajemen Pelaksana baru dibentuk oleh Komite pada 17 Maret
              2020.

              Hanya saja, proses perjanjian kerjasama antara manajemen pelaksana dengan platform mitra
              dilakukan pada 20 Maret 2020.

              Padahal, Permenko Nomor 3 Tahun 2020 yang mengatur teknis perjanjian kerjasama, terbit
              pada 27 Maret 2020.

                                                           145
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151