Page 149 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 149

Berdasarkan  kajian  ICW,  program  tersebut  berpotensi  merugikan  keuangan  negara,  karena
              terjadi praktik monopoli, hingga adanya nuansa konflik kepentingan. Konflik kepentingan terlihat
              dari  beberapa  mitra  platform  digital  dan  lembaga  pelatihan  penyedia  kelas    training    kartu
              Prakerja adalah dari perusahaan orang lingkaran Istana.

              Contohnya,  mitra  platform  sekaligus  Lembaga  pelatihan  Ruangguru/Skill  Academy,  pendiri
              sekaligus CEO perusahaan itu adalah Adamas Belva Syah Devara yang merupakan eks Staf
              Khusus Presiden Jokowi.
              "Pemerintah harus menghentikan program kartu Prakerja. Jika program ini tetap dipaksakan
              berjalan  maka  dapat  melanggar  ketentuan  peraturan  perundang-undangan  dan  berpotensi
              terjadinya  tindak  pidana  korupsi," kata  Wana  Alamsyah,  peneliti  ICW  dalam  konfrensi  pers,
              Kamis (2/7/2020).
              Ada  enam  argumentasi  yang  menjadi  landasan  ICW  melaporkan  dugaan  maladministrasi
              program  kartu  Prakerja.  Pertama,  penempatan  program  kartu  prakerja  tidak  sesuai  dengan
              tugas, pokok, fungsi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

              Sedari awal ICW sudah mempertanyakan dasar argumentasi pemerintah untuk menempatkan
              Kemenko Perekonomian sebagai pengampu program Kartu Prakerja. Sebab, berdasarkan tugas
              pokok dan fungsi penyelenggaraan program ini lebih tepat jika diberikan kepada Kementerian
              Ketenagakerjaan.
              Apalagi  jika  merujuk pada  Rencana  Pembangunan  Jangka  Menengah  Nasional  Tahun  2020-
              2024, salah satu arah kebijakan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing yakni melalui
              pendidikan  dan  pelatihan  vokasi  berbasis  kerjasama  industri.  Kebijakan  tersebut  dilakukan
              dengan cara meningkatkan akses ke pelatihan vokasi melalui penerapan Kartu Prakerja.
              "Dengan  menempatkan  Kemenko  Perekonomian  sebagai  pelaksana  teknis  program  Kartu
              Prakerja,  timbul  konflik  peran  secara  internal,  karena  fungsi  pengawasan  dan  fungsi
              pelaksanaan  teknis  menyatu  pada  satu  Kementerian.  Sehingga,  ini  dipandang  sebagai
              maladministrasi karena melampaui wewenang sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) Undang Undang
              Nomor 37 Tahun 2008," terang Wana.

              Kedua, mekanisme kurasi lembaga pelatihan tidak layak dan mengandung konflik kepentingan.
              Berdasarkan  Pasal  27  PerMenKoPer  3/2020  sudah  dijelaskan  bahwa  jangka  waktu  yang
              dibutuhkan  oleh  Platform  Digital  dan  Manajemen  Pelaksana  untuk  melakukan  proses  kurasi
              yakni paling lama 21 hari sampai akhirnya bisa ditetapkan sebagai lembaga pelatihan.

              Namun faktanya, rentang waktu antara proses pendaftaran gelombang I sampai penutupan
              hanya 5 hari saja. Waktu ini dipandang tidak cukup untuk menghasilkan lembaga pelatihan yang
              benar-benar teruji dan profesional. Bahkan dapat berpotensi merusak kualitas pelatihan yang
              sebelumnya dijanjikan akan diberikan.

              Ketiga, perjanjian kerjasama antara Manajemen Pelaksana dengan Platform Digital dilakukan
              sebelum terbitnya Permenko 3/2020. Manajemen Pelaksana baru dibentuk oleh Komite pada
              tanggal 17 Maret 2020, lalu Perjanjian Kerja Sama antara Manajemen Pelaksana dilakukan pada
              tanggal 20 Maret 2020. Sedangkan Permenko 3/2020 yang mengatur teknis perjanjian kerja
              sama baru terbit pada tanggal 27 Maret 2020.

              "Artinya,  patut  diduga  bahwa  perjanjian  kerja  sama  yang  dilakukan  antara  Manajemen
              Pelaksana  dengan  Platform  Digital  merupakan  bentuk  maladministrasi  karena  dasar  hukum
              teknis yang mengatur tentang perjanjian sebenarnya kerjasama belum ada," ungkapnya.

              Keempat, pemilihan platform digital tidak sesuai dengan prinsip pengadaan barang dan jasa
              Pemerintah.  Dengan  begitu  penunjukkan  platform  digital  sebagai  mitra  pemerintah  tidak
                                                           148
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154